EmitenNews.com—PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan menambah produksi Bahan Baku Obat (BBO) dari 12 menjadi 28 hingga tahun 2024, guna memastikan kemandirian kemandirian farmasi dan alat kesehatan dari pemerintah, sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.


Produk impor masih membanjiri industri bahan baku obat (BBO) dalam negeri dengan jumlah mencapai 95%. Oleh karena itu, pemerintah berupaya membangun industri BBO lewat BUMN, yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF).


Direktur Utama KAEF, David Utama mengatakan, dengan telah berproduksinya PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) selaku anak usaha dengan menggandeng Sungwun Pharmacopia Co, Ltd., dari Korea Selatan maka telah dapat menghemat impor BBO industri Farmasi dalam negeri.


Ia merinci pada tahun 2020 telah menghemat 2,72 persen dari total impor BBO senilai Rp901.36 miliar. Tahun 2021 berhasil menghemat 4,61 persen impor BBO senilai Rp1,025 triliun. Tahun 2022 diharapkan dapat menghemat 9,63 persen impor BBO senilai Rp2,051 triliun.


“Maka tahun 2023 kami harap dapat menghemat 10,53 persen dengan nilai Rp2,75 triliun dan David Utama menargetkan produksi 28 BBO bisa tercapai pada 2024. Dengan demikian, impor BBO bisa berkurang hingga 20 persen dan menghemat biaya impor senilai Rp3,7 triliun.


"Kami akan mengembangkan dan memproduksi total 28 BBO yang akan diproduksi sampai 2024. Diharapkan akan menurunkan impor sebesar 17-20%," kata David.


Apabila penurunan impor BBO dapat terwujud, pemerintah dapat berhemat hingga Rp 3,7 triliun. Ia menjelaskan, "di setiap tahunnya produksi BBO KFSP bisa menekan impor sejak 2020,” kata dia dalam paparan media di Cikarang, Senin(3/10/2022).


Ia bilang pembangunan fasilitas produksi BBO berlokasi di Cikarang, Jawa Barat yang telah selesai dilakukan pada tahun 2018 ini terus melakukan inovasi untuk mewujudkan ketahanan kesehatan nasional melalui produksi BBO.


Sampai dengan hari ini PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia sudah memilki sertifikat Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Pengembangan Bahan Baku Obat dilakukan sesuai dengan program pemerintah dan prioritas kebutuhan nasional, dimana sampai tahun 2022 telah berhasil memproduksi 12 item BBO yang telah memiliki sertifikat GMP dari Badan POM RI sehingga siap untuk digunakan oleh seluruh Industri Farmasi dalam negeri yaitu: 3 BBO anti kolesterol yaitu Simvastatin, Atorvastatin dan Rosuvastatin, 1 BBO anti platelet untuk obat jantung yaitu Clopidogrel, 2 BBO anti virus Entecavir dan Remdesivir, 4 BBO Anti Retroviral (ARV) untuk HIV AIDS yaitu Tenofovir, Lamivudin, Zidovudin dan Efavirenz, 1 BBO untuk diare yaitu Attapulgite dan 1 BBO untuk antiseptic dan desinfectan yaitu Iodium Povidon.


Sedangkan untuk meningkatkan produksi menjadi 28 BBO, kata dia, perseroan membutuhkan dana belanja modal sebesar Rp600 miliar.


Tidak hanya itu, langkah ini diambil pemerintah demi mencapai ketahanan nasional. Apalagi, hingga kini Indonesia masih berada dalam era pandemi Covid-19. Oleh karena itu, David mengatakan, langkah strategis ini dimaksudkan demi mendorong kemandirian Indonesia dalam industri farmasi dari hulu ke hilir.


Direktur Utama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Pamian Siregar mengatakan, hingga kini dari segi komersial, BBO-nya baru dipergunakan untuk keperluan produksi Kimia Farma karena ada beberapa tantangan. "Salah satu tantangannya itu kan proses change source-nya ya. Waktunya itu cukup lama, 1.5-2 tahun," ujar Pamian, dalam kesempatan yang sama.


Lebih lanjut tantangan berikutnya yaitu harga BBO lokal yang lebih mahal dari BBO impor dengan selisih sekitar 25%. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan telah membantu industri obat melalui pendanaan demi mendorong perusahaan terkait untuk menyerap suplai BBO dari KFSP. Harapannya, kata Pamian, pada November tahun ini sudah ada beberapa perusahaan yang menyerap.


"Tahun ini yang sudah mulai (menyerap) itu Dexa Medica. Nah ini yang nanti pada saat HKN itu, Hari Kesehatan Nasional, mereka akan men-declare berapa kemampuan mereka menyerap," ungkapnya.


Selain Dexa, Pamian mengatakan, akan ada beberapa perusahaan obat lainnya seperti Phapros, Novell, Pyridam, serta Farenheit. Di sisi lain, ia menegaskan, pemerintah mengambil langkah dengan produksi BBO dalam negeri bukan untuk menyaingi harga BBO produksi luar seperti China dan India, melainkan untuk ketahanan nasional. Pasalnya, harga BBO impor terbilang lebih murah, yang produksinya untuk kebutuhan global.


Pamian juga menyampaikan, KFSP merupakan pabrik untuk produksi nasional. Oleh karena itu selain kebutuhan komersial, pihaknya juga perlu melihat kebutuhan kebutuhan obat dalam negeri, dalam hal ini Kementerian Kesehatan


"Misalnya obat HIV AIDS, ini kan masih impor kita. Secara nasional value-nya tidak besar, tetapi kan Menkes ingin ini diproduksi dalam negeri demi ketahanan. Makanya kita produksi juga, sehingga seberapa besar kebutuhannya juga beda-beda.