Menurut Elvi, dampak konflik geopolitik biasanya menjalar melalui beberapa jalur, mulai dari lonjakan harga minyak, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga potensi capital outflow dari pasar negara berkembang.

Ia menekankan pentingnya koordinasi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia guna menjaga stabilitas pasar.

“Stabilitas psikologis investor sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. OJK perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan optimal serta menyiapkan kebijakan responsif untuk meredam gejolak,” kata dia.

Dengan volatilitas global yang masih tinggi dan ketidakpastian konflik yang belum mereda, pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati dalam beberapa waktu ke depan.(*)