EmitenNews.com -PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) mencatatkan lonjakan kinerja operasional pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 (9M26). Pertumbuhan penjualan yang signifikan ini mencerminkan hasil positif awal pasca konsolidasi bisnis dan masuknya pemegang saham pengendali baru, PT PIMSF Pulogadung (bagian dari Tjokro Group).

Berdasarkan laporan keuangan interim perusahaan yang dipublikasikan pada 30 Oktober 2026, GPSO berhasil meraup penjualan neto sebesar Rp9,18 miliar hingga akhir September 2026. Angka ini melonjak tajam 194,07% atau naik Rp6,06 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu (9M25) sebesar Rp3,12 miliar.

Peningkatan tajam penjualan GPSO disokong kuat oleh kontribusi transaksi dengan pihak-pihak berelasi dari jaringan bisnis Tjokro Group yang menyumbangkan 85,96% dari total pendapatan.
Kontributor utama penjualan barang dagang dan jasa GPSO selama 9M26 meliputi PT Tjokro Bersaudara Sangattaindo Rp2,41 miliar setara 26,20% dari total penjualan, PT Morita Tjokro Gearindo: Rp2,17 miliar setara 23,68% dari total penjualan, PT Geoprima Sistem Indonesia Rp1,20 miliar setara 13,06% dari total penjualan dan pelanggan pihak ketiga & lainnya Rp3,40 miliar.

Sebagai perbandingan, pada periode 9M25 sebelum konsolidasi, mayoritas penjualan sebesar 56% ditopang oleh pihak ketiga PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) atau Harita sebesar Rp1,76 miliar.

Seiring melonjaknya volume penjualan, beban pokok penjualan GPSO membengkak 559,58% (naik Rp6,81 miliar) dari Rp1,22 miliar pada 9M25 menjadi Rp8,03 miliar pada 9M26. Kondisi tersebut menekan laba kotor (laba bruto) perusahaan sebesar -39,62% (turun Rp754,63 juta) menjadi Rp1,15 miliar pada 9M26, dari sebelumnya Rp1,90 miliar pada 9M25.

Meski laba kotor tertekan, GPSO mencatatkan efisiensi pada pos beban operasional. Beban Penjualan turun -44,98% atau berkurang Rp215,77 juta menjadi Rp263,86 juta di bandingkan 9M25 senilai Rp479,63 juta. Beban Umum dan Administrasi turun -41,28% atau berkurang Rp2,27 miliar menjadi Rp3,23 miliar dibandingkan 9M25: Rp5,51 miliar.

Dampak dari efisiensi beban usaha tersebut berhasil menekan rugi usaha (rugi operasi) perusahaan sebesar 42,49%, membait dari rugi operasi Rp4,08 miliar pada 9M25 menjadi rugi operasi Rp2,35 miliar pada 9M26.

Di sisi non-operasional, perusahaan mencatatkan pendapatan lain-lain sebesar Rp610,37 juta (dibandingkan beban lain-lain Rp42,11 juta pada 9M25), yang salah satunya ditopang oleh pemulihan penyisihan penurunan nilai piutang sebesar Rp689,34 juta.

Dengan tidak adanya pencatatan beban pajak kini maupun pajak tangguhan pada periode ini, rugi sebelum pajak, rugi tahun berjalan, serta rugi komprehensif GPSO tercatat sama di angka Rp1,74 miliar.

Angka rugi bersih ini membaik drastis hingga 57,88% atau susut Rp2,39 miliar dari posisi rugi bersih Rp4,13 miliar pada periode 9M25. Rugi bersih per saham dasar (Basic EPS) pun membaik menjadi -Rp2,61 dari sebelumnya -Rp6,19 per saham.