EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup susut 0,68 persen menjadi 7.623. Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area overbought, dan membentuk death cross. Namun histogram positif MACD masih mengalami kenaikan. So, indeks diperkirakan mengalami konsolidasi pada kisaran 7.550-7.700. 

Rupiah kembali ditutup melemah menjadi Rp17.140 per dolar Amerika Serikat (USD). S&P Global Ratings menyatakan peringkat utang negara Indonesia paling rentan terhadap konflik di Timur Tengah kalau berlarut-larut. Kenaikan biaya energi akibat konflik itu, diproyeksi mendongkrak biaya subsidi Indonesia, dan menekan anggaran belanja negara. 

Impor minyak lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan. S&P juga menilai percepatan inflasi akan mendorong kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. Pefindo mencatat penerbitan obligasi korporasi sepanjang kuartal I-2026 tumbuh 26,97 persen YoY menjadi Rp59,35 triliun dari periode sama tahun lalu Rp46,8 triliun. 

Realisasi itu, bahkan melebihi nilai jatuh tempo surat utang pada periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah penerbitan itu, diduga karena banyak perusahaan memanfaatkan yield relatif masih rendah selama periode Januari-Februari 2026 lalu untuk memperoleh pendanaan di pasar surat utang. 

Surat utang dengan tenor 5 tahun mendominasi emisi 29,53 persen dari total penerbitan, diikuti tenor 1 tahun 25,95 persen, tenor 3 tahun 22,91 persen, tenor 7 tahun 16,36 persen, dan tenor panjang kurang dari 6 persen. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menjala saham GJTL, CPIN, MAPI, CTRA, dan ADRO. (*)