EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup bervariasi mayoritas melemah. Itu dipicu terkoreksi saham sektor teknologi seiring angka inflasi lebih tinggi dibanding ekspektasi, dan penguatan harga minyak mentah berlanjut. Beberapa saham sektor teknologi mengalami koreksi cukup dalam.

Antara lain, Qualcom drop 11,46 persen, Micron Technology 3,61 persen, dan Advanced Micro Devices 2,29 persen. Berdasar data Biro Statistik Ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), pada April lalu Inflasi tercatat naik 0,6 persen MoM menjadikan inflasi tahunan mencapai 3,8 persen yoy, lebih tinggi dari perkiraan 3,7 persen, dan merupakan inflasi tertinggi sejak Mei 2023. 

Sementara itu, harga minyak mentah kemarin kembali mencatat kenaikan signifikan 4,19 persen untuk WTI menjadi USD102,18 per barel, dan surplus 3,42 persen untuk Bren menjadi USD107,77 per barel. Koreksi mayoritas indeks bursa Wall Street, pengumuman rebalancing indeks MSCI, tekanan terhadap rupiah berlanjut, dan aksi jual masif investor asing diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. 

Sementara itu, lompatan harga komoditas energi, dan potensi adanya rotasi ke saham-saham berfundamental kokoh berpeluang menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). Jadi, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.760-6.660, dan resistance 6.960-7.055.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham XLSmart (EXCL), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Unilever Indonesia (UNVR), Elnusa (ELSA), dan Medco Energi (MEDC). (*)