EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (KOSPI) Korea Selatan melonjak masuk ke zona pasar bearish setelah runtuh lebih dari 10 persen dalam perdagangan intraday hingga menembus garis 6.000. Anjloknya bursa saham utama Asia ini memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) yang kedelapan kalinya sepanjang tahun ini.

Laporan Seoul Economic Daily mencatat imbal hasil KOSPI pada bulan Juli merosot hingga minus 28,9 persen. Angka penurunan ini tercatat melebihi rekor koreksi maksimum saat krisis keuangan global tahun 2008 sebesar minus 23,1 persen, serta melampaui kejatuhan indeks Nasdaq saat pecahnya gelembung teknologi (IT bubble) tahun 2000 sebesar minus 22,9 persen.

Kejatuhan drastis di bursa Korea Selatan ini memberikan sinyal kewaspadaan bagi pasar keuangan Indonesia. Sebagai salah satu mitra dagang dan investor utama nasional, gejolak ekonomi di Korea Selatan berpotensi memberi tekanan arus modal serta memengaruhi sentimen investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Penurunan ini mendorong penilaian bahwa kondisi pasar bukan sekadar koreksi teknis, melainkan telah memasuki fase pasar bearish," tulis laporan media pasar Seoul Economic Daily.

Tekanan di sektor manufaktur dan teknologi Asia semakin diperberat oleh kebangkitan industri semikonduktor China. Negara tersebut kini mengembangkan secara mandiri peralatan litografi ultraviolet dalam (DUV) guna mengatasi hambatan lokalisasi. Pangsa pasar DRAM tujuan umum yang dipusatkan pada Changxin Memory Technologies (CXMT) diproyeksikan membesar hingga 30 persen pada 2028, memanaskan kembali persaingan teknologi regional.

Di sisi lain, dinamika bisnis global ditandai dengan masuknya perusahaan kemudi otonom asal Amerika Serikat, Waymo, yang resmi mendirikan entitas Waymo Korea. Meski tengah menjajaki potensi kerja sama dengan Hyundai Motor, proses komersialisasi layanan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sedikitnya enam bulan akibat prosedur regulasi domestik.(*)