EmitenNews.com - Kurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang dinilai masih mendominasi struktur energi nasional, NEXT Indonesia Center mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Transisi energi menjadi agenda strategis dalam pembangunan Indonesia.

“Selama fondasi sistem energinya tetap berbasis fosil, target penurunan emisi jelas akan sulit tercapai,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center Christiantoko dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (8/3/2026). 

Namun, upaya menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan masih menghadapi tantangan besar, karena struktur energi nasional masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Komitmen Indonesia terhadap penurunan emisi telah dituangkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang disampaikan kepada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.

Komitmen tersebut kemudian diperbarui melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) pada 2025. Targetnya, penurunan emisi secara signifikan hingga tahun 2030 dan 2035 sebagai bagian dari jalur menuju target net zero emission (NZE) pada 2060.

Dalam penilaian NEXT Indonesia Center, struktur emisi Indonesia juga mengalami pergeseran signifikan dalam dua dekade terakhir. Jika pada awal 2000-an emisi nasional didominasi sektor kehutanan atau forestry and other land use (FOLU), kini sektor energi justru menjadi penyumbang emisi terbesar.

Kontribusi emisi dari sektor energi bahkan telah melampaui 50 persen dalam beberapa tahun terakhir. Tren ini sangat mengkhawatirkan karena emisi energi bersifat lebih konsisten dan sulit ditekan. 

“Sumber emisi energi tersebut berasal dari pembangkit listrik berbasis batu bara, transportasi berbahan bakar minyak, dan aktivitas industri," tegasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan emisi dari sektor energi meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir. Pada 2000, emisi energi tercatat sekitar 317 juta ton CO2e, kemudian melonjak menjadi 752 juta ton CO2e pada 2023.

Dibandingkan negara-negara di kawasan ASEAN, emisi karbon Indonesia yang berasal dari sektor energi tercatat sebagai yang tertinggi secara absolut.

Energy Institute mencatat pada 2024 emisi CO2 dari energi Indonesia mencapai sekitar 747 juta ton, jauh melampaui negara tetangga. Misalnya, Malaysia sekitar 296 juta ton, Thailand sekitar 271 juta ton, Singapura sekitar 248 juta ton, Filipina sekitar 164 juta ton, dan Vietnam sekitar 334 juta ton.

Pihaknya juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap batu bara yang masih menjadi penghambat utama dalam proses transisi energi.

Pada 2024, dari total konsumsi energi primer sekitar 10,75 exajoules, batu bara menyumbang porsi terbesar yakni 43,9 persen. Sementara itu, minyak bumi berkontribusi 29,4 persen dan gas alam 15,8 persen. Di sisi lain, kontribusi energi baru terbarukan masih terbatas sekitar 10,8 persen.

“Rendahnya porsi EBT Indonesia sebesar 10,8 persen ini tertinggal dibanding rata-rata global yang sudah lebih dari 19 persen. Padahal secara potensi teknis, Indonesia memiliki sumber daya surya, air, panas bumi, dan bioenergi yang melimpah. Ini menunjukkan bahwa tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kecepatan transformasi sistem energi,” ungkap Christiantoko.

Komposisi pembangkit listrik nasional sepanjang periode 2015–2024, batu bara juga masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Indonesia. Pada 2015, energi ini menyumbang 53,3 persen produksi listrik nasional dan meningkat menjadi sekitar 61,5 persen pada 2024. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kebutuhan listrik Indonesia masih banyak dipenuhi oleh sumber energi dengan intensitas karbon tinggi. ***