EmitenNews.com - Indofood CBP (ICBP) sepanjang 2024 mengemas laba bersih Rp7,07 triliun. Menanjak 1,14 persen dari episode sama tahun sebelumnya Rp6,99 triliun. Dengan hasil itu, laba per saham dasar ikut terkerek tipis menjadi Rp607 dari sebelumnya Rp599. 

Penjulan bersih Rp72,59 triliun, melonjak 6,9 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp67,9 triliun. Beban pokok penjualan Rp45,7 triliun, bengkak dari posisi sama akhir 2023 sebesar Rp42,78 triliun. Laba kotor terkumpul senilai Rp26,89 triliun, mengalami pertumbuhan dari tahun sebelumnya Rp25,12 triliun. 

Beban penjualan dan distribbusi Rp7,8 triliun, bengkak dari Rp7,53 triliun. Beban umum dan administrasi Rp2,9 triliun, bengkak dari Rp2,81 triliun. Pendapatan operasi lain Rp485,33 miliar, melesat dari Rp421,13 miliar. Beban operasi lain Rp355,3 miliar, susut dari Rp808,04 miliar. Laba usaha Rp16,32 triliun, naik dari Rp14,38 triliun. 

Pendapatan keuangan Rp963,11 miliar, turun dari Rp1,49 triliun. Beban keuangan Rp4,25 triliun, bengkak dari Rp2,02 triliun. Pajak final atas penghasilan bunga Rp139,16 miliar, bengkak dari Rp95,95 miliar. Bagian atas rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama dan lainnya Rp1,39 triliun, berkurang dari Rp2,31 triliun. 

Laba tahun berjalan Rp8,81 triliun, naik dari Rp8,46 triliun. Total ekuitas Rp67,04 triliun, melonjak dari Rp62,1 triliun. Jumlah liabilitas Rp58,99 triliun, bengkak dari akhir 2023 senilai Rp57,16 triliun. Total aset Rp126,04 triliun, meningkat dari Rp119,26 triliun. 

Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood CBP menyebut di tengah situasi Penh tantangan dengan daya beli masyarakat terdampak kenaikan berbagai kebutuhan pokok, perseroan menyudahi 2024 dengan rapor positif. Penjualan dan EBIT tumbuh terutama didoroang kenaikan volume, dan perbaikan productivités, dan efisiensi. 

”Memasuki 2025, ketidakpastian global dan perubahan kondisi ekonomi akan terus berdampak pada dunia usaha. Menghadapi kondisi itu, kami akan terus mendorong pertumbuhan penjualan, volume, dan mempertahan tingkat profitabilitas, dan neraca keuangan secara sehat,” tegas Anthoni. (*)