EmitenNews.com - Samsung Electronics melaporkan laba bersih kuartal II-2026 meroket menjadi 71,26 triliun Won atau sekitar USD 49,4 miliar pada 30 Juli 2026. Angka tersebut melonjak kira-kira 14 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Laba operasional perusahaan juga melonjak 19 kali lipat menjadi 89,5 triliun Won atau sekitar USD 62,1 miliar. Sementara itu, pendapatan naik 130 persen menjadi 171,5 triliun Won atau sekitar USD 118,9 miliar. Menurut Biggo Finance, lonjakan ini dipicu oleh rekor keuntungan divisi semikonduktor berkat gelombang permintaan kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, bisnis ponsel pintar Samsung justru mengalami kerugian operasional kuartalan untuk pertama kalinya akibat lonjakan biaya komponen. Kontras ini menunjukkan ketimpangan kinerja antar unit bisnis dalam raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut.

Divisi chip menjadi mesin pertumbuhan utama dengan mencatatkan laba operasional sebesar 89,2 triliun Won atau sekitar USD 61,9 miliar. Nilai tersebut menyumbang lebih dari 99 persen dari total laba operasional perusahaan. Adapun pendapatan divisi semikonduktor mencapai 127,5 triliun Won atau sekitar USD 88,4 miliar.

Lonjakan kinerja semikonduktor didorong oleh tingginya permintaan memori bandwidth tinggi (HBM), DRAM server, dan penyimpanan perusahaan di tengah ekspansi pusat data AI generatif. Kenaikan harga DRAM dan memori flash NAND turut meningkatkan profitabilitas.

Menurut Reuters, Samsung menyatakan bahwa mereka mengharapkan permintaan yang kuat yang berpusat pada server di paruh kedua tahun 2026. Hal ini didorong oleh investasi infrastruktur AI yang berkelanjutan dan perluasan adopsi AI agenik.

Samsung juga mencatat bahwa meskipun permintaan aplikasi seluler dan PC mungkin sedikit melambat, pasar diperkirakan tetap dalam kondisi keterbatasan pasokan.

Kinerja positif Samsung memberi sentimen segar bagi pasar saham Asia, termasuk dampaknya terhadap optimisme pasar kawasan seperti Indonesia. Harga saham Samsung di Seoul sempat melonjak hingga 4 persen ke level 214.000 Won.

Penguatan ini mendorong Indeks Harga Saham Komposit Korea Selatan (KOSPI) naik hingga 1,5 persen setelah sebelumnya anjlok lebih dari 16 persen. Sentimen positif turut menjalar ke pasar Jepang, dengan indeks Nikkei 225 yang sempat menguat 2 persen.(*)