EmitenNews.com - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings mengonfirmasi Peringkat Gagal Bayar Penerbit (IDR) Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Lokal PT Danantara Investment Management (DIM) pada level 'BBB' dengan Prospek Negatif. Selain itu, Fitch menetapkan IDR Jangka Pendek Mata Uang Asing entitas tersebut di posisi 'F2'.

Pada saat yang sama, Fitch Ratings Indonesia menetapkan Peringkat Jangka Panjang Nasional DIM di level tertinggi 'AAA(idn)' dengan Prospek Stabil, serta Peringkat Jangka Pendek Nasional pada posisi 'F1+(idn)'. Fitch juga menegaskan peringkat program obligasi jangka menengah global (GMTN) dan utang subordinasi perusahaan.

Berdasarkan laporan resmi dari Fitch Ratings yang dirilis pada Sabtu (20/9/2026), penegasan peringkat ini mencerminkan keterkaitan struktur yang sangat kuat antara DIM dan pemerintah Indonesia berdasarkan kriteria entitas terkait pemerintah (Government-Related Entities/GRE). DIM beroperasi sebagai lengan investasi pemerintah dalam struktur dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Prospek Negatif pada skala internasional DIM mengikuti Prospek kedaulatan (sovereign) Indonesia, sedangkan Prospek Stabil pada skala nasional mencerminkan kredibilitas relatif perusahaan yang tetap terjaga di pasar domestik.

Fitch menilai dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia kepada DIM berada pada kategori 'Hampir Pasti' jika dibutuhkan, dengan skor dukungan mencapai 55 dari total nilai maksimal 60. Pemerintah memegang 100% kepemilikan saham melalui BPI Danantara dan memegang kendali penuh atas kebijakan operasional, rencana investasi, serta strategi pendanaan entitas tersebut.

"Pemerintah mempertahankan kepemilikan penuh melalui BPI Danantara dan menjalankan wewenang pengambilan keputusan atas DIM melalui dewan direksi dan dewan komisaris. Direktur utama DIM juga menjabat sebagai kepala investasi BPI Danantara, yang memperkuat keselarasan antara pelaksanaan DIM dan mandat kebijakan pemerintah," tulis Fitch dalam analisis resminya.

Guna mendukung likuiditas dan komitmen investasi, DIM telah menerima suntikan modal sebesar Rp70 triliun pada tahun 2025 dari BPI Danantara yang bersumber dari dividen BUMN melalui PT Danantara Asset Management (DAM). Dari sisi kinerja perbendaharaan, DIM membukukan pendapatan operasional sebesar Rp801,2 miliar dan laba bersih sebesar Rp116,3 miliar pada tahun 2025.

Perusahaan juga memperkuat profil pendanaan pasar modal melalui penggalangan utang subordinasi sebesar Rp68,4 triliun, fasilitas kredit multi mata uang sebesar USD1 miliar, serta penerbitan obligasi global perdana senilai USD1,5 miliar pada Juni 2026 yang terbagi dalam tenor 2031 (USD750 juta) dan 2036 (USD750 juta).

Bagi pasar keuangan Indonesia, penegasan peringkat oleh Fitch ini memberikan kepastian nilai kredit bagi instrumen obligasi BUMN dan entitas negara di mata investor global. Penilaian 'AAA(idn)' menunjukkan bahwa instrumen pendanaan yang diterbitkan instansi pemerintah ini memiliki risiko gagal bayar paling rendah di dalam negeri, sehingga menjaga stabilitas pasar modal domestik serta efisiensi biaya penghimpunan dana untuk pembangunan nasional.(*)