EmitenNews.com - PP London Sumatra Indonesia atau Lonsum (LSIP) memutuskan pembagian dividen tunai Rp566,05 miliar. Alokasi dividen itu, diambil sekitar 30,15 persen dari koleksi laba bersih tahun buku 2025 senilai Rp1,88 triliun. So, dengan begitu, para investor akan mendapat santunan dividen Rp83 per lembar.

Berdasar data penutupan perdagangan saham perseroan edisi Kamis, 25 Juni 2026 di level Rp1.345, maka LSIP menawarkan dividend yield 6,17 persen. Pembagian dividen tunai sebesar Rp83 per lembar tersebut akan dibayarkan pada 24 Juli 2026.

Kebijakan pembagian dividen itu, telah dipatenkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025 pada 15 Juni 2026. Selain itu, para pemegang saham menyetujui laporan tahunan direksi mengenai kegiatan usaha, dan kinerja keuangan untuk tahun buku berakhir pada 31 Desember 2025.

Tan Agustinus Dermawan, Presiden Direktur LSIP mengatakan menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh pemegang saham kepada Lonsum. Lonsum akan terus mengelola kegiatan usaha secara cermat, dan mengelola kegiatan operasi secara berkelanjutan. ”Lonsum tetap fokus pada peningkatan pengendalian biaya, efisiensi, memprioritaskan belanja modal, dan meningkatkan produktivitas,” tegas Tan Agustinus Dermawan. 

Sepanjang tahun lalu, LSIP menyabet laba bersih Rp1,88 triliun. Menanjak 27,89 persen dari episode sama tahun sebelumnya senilai Rp1,47 triliun. Dengan hasil itu, laba per saham dasar menjadi Rp277 dari sebelumnya Rp217. Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan Rp5,51 triliun, surplus 20,83 persen dari edisi sama tahun sebelumnya Rp4,56 triliun.

Itu terutama karena kenaikan harga jual rata-rata, dan volume penjualan produk sawit. Beban pokok penjualan Rp3,25 triliun, bengkak dari akhir tahun 2024 sebesar Rp2,57 triliun. Laba kotor terkumpul Rp2,26 triliun, melejit 14 persen dari Rp1,99 triliun. Laba usaha naik 30 persen menjadi Rp2,01 triliun dari Rp1,55 triliun.

Lonsum tidak ada pendanaan melalui utang bank per 31 Desember 2025. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti turun 3 persen menjadi 1,14 juta ton. Namun, total produksi CPO naik 2 persen menjadi 292 ribu ton seiring kenaikan TBS dari eksternal. (*)