EmitenNews.com - PT Bumi Resources (BUMI) makin serius mendorong hilirisasi batu bara sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis. Salah satu langkah terbaru dilakukan melalui pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol berkapasitas 2 juta ton per tahun di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Proyek Strategis Nasional Coal-to-Methanol itu dikembangkan melalui PT Bumi Etam Chemical (BEC), usaha patungan PT Arutmin Indonesia, dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). BEC bersama PT Istana Karang Laut, dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. telah meneken kontrak Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning Framework Agreement. Proyek masuk tahap FEED menjadi milestone penting karena menandai dimulainya proses rekayasa dasar akan menjadi acuan pengembangan fasilitas.

Sementara itu, kerangka EPCC menjadi landasan untuk tahapan berikutnya mencakup pengadaan, konstruksi hingga commissioning fasilitas produksi metanol. Fasilitas tersebut akan dikembangkan di Bengalon Coal Industrial Park, Kutai Timur. Melalui gasifikasi, batu bara yang selama ini dipasarkan sebagai sumber energi akan dikonversi menjadi metanol yang dapat digunakan oleh industri petrokimia, manufaktur, energi, dan berbagai industri turunannya.

Langkah itu, sekaligus membuka peluang bagi BUMI untuk memperoleh nilai tambah lebih besar dari komoditas batu bara. “Proyek gasifikasi tersebut menjadi langkah strategis BUMI untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas diversifikasi bisnis secara bertahap, sejalan dengan strategi jangka panjang BUMI,” ujar analis MNC Sekuritas Raka Junico.

Menurut Raka, dimulainya tahap FEED menunjukkan agenda hilirisasi BUMI mulai memasuki fase pengembangan yang semakin konkret. Tahap ini akan menjadi dasar untuk menentukan desain fasilitas, teknologi yang digunakan, estimasi kebutuhan investasi hingga kelayakan pelaksanaan konstruksi.

“Pasar akan melihat proyek ini sebagai milestone penting. Ketika sebuah proyek sudah masuk tahap FEED dan memiliki kerangka pelaksanaan EPCC, tingkat kepastian pengembangannya menjadi lebih kuat dibandingkan ketika masih berada pada tahap studi awal,” katanya.

Selain memberikan nilai tambah terhadap batu bara, proyek Coal-to-Methanol berpotensi membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol. Komoditas tersebut merupakan bahan baku bagi berbagai industri kimia nasional, sehingga keberadaan fasilitas produksi dalam negeri dapat memperkuat rantai pasok sekaligus mendukung kemandirian industri domestik.

Dampak ekonomi proyek juga berpotensi meluas melalui penciptaan lapangan kerja, masuknya investasi, serta peningkatan aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur. Kolaborasi antara BEC, IKL, dan CNCEC menggabungkan kapabilitas di bidang rekayasa, pengadaan, konstruksi, investasi hingga pengembangan industri hilir.

Raka menilai hilirisasi batu bara berpeluang menjadi salah satu sumber pertumbuhan BUMI dalam jangka panjang. Namun, realisasi kontribusinya terhadap kinerja perseroan tetap akan bergantung pada penyelesaian tahapan rekayasa, kepastian pendanaan, serta eksekusi konstruksi proyek.

“Apabila proyek berjalan sesuai rencana, BUMI tidak hanya memperoleh manfaat dari produksi batu bara, tetapi juga dari aktivitas pengolahan dan penjualan produk turunannya. Hal ini dapat memperkuat kualitas pendapatan dan membuat model bisnis perseroan lebih terintegrasi,” ujarnya.