EmitenNews.com - Eka Sari Lorena (LRNA) mengungkap 66 unit armada bus tidak menghasilkan pendapatan. Pasalnya, sebagian bus dalam kondisi belum layak jalan, dan butuh perbaikan besar. Praktis hanya 43 unit armada produktif dari total 109 unit armada milik perseroan.

Sejumlah armada tidak layak jalan itu, selain perbaikan besar juga butuh perawatan berkala atau penggantian suku cadang utama sehingga belum memenuhi standar keselamatan dan operasional. Kemudian, beberapa bus masih dapat beroperasi namun berumur lebih 18 tahun, namun butuh biaya operasional, dan perawatan ekstra.

Oleh sebab itu, kurant efisien untuk dioperasikan secara komersial. Di samping itu, jumlah armada melebihi kebutuhan rute, dan permintaan pasar. Dengan begitu, sebagian bus belum dimanfaatkan untuk menghindari biaya operasional. Pengoperasian bus tertentu dinilai kurant ekonomis karena potensi pendapatan tidak sebanding dengan biaya bahan bakar.

Di sisi lain, beberapa unit masih dalam proses evaluasi untuk ditentukan apakah akan diperbaiki, diremajakan, dialihkan, atau dilepas ssebagai aset tetap perusahaan. Nah, dengan pertimbangan faktor-faktor itu, manajemen memutuskan untuk sementara waktu tidak mengoperasikan 66 bus untuk meniga efisiensi, dan kesehatan keuangan persseroan. 

Tindak panjut terhadap bus non produktif itu, manajemen mengevaluasi atas kondisi teknis, usia ekonomis, tingkat utilitas, dan biaya perawatan setiap unit bus. Mengoptimalkan pemanfaatan bus masih layak, termasuk pengalihan rute atau kegiatan operasional berpotensi menghasilkan pendapatan. 

Kemudian, melakukan perbaikan atau peremajaan armada bus yang seara teknis, dan ekonomis masih memungkinkan untuk dioperasikan. Melakukan monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan jumlah, dan kondisi armada sesuai kebutuhan operasional perseroan. 

Terhadap bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang tidak beroperasi tersebut, manajemen telah melakukan, dan akan melanjutkan evaluasi untuk menentukan tindak lanjut paling optimal bagi perusahaan. Berdasar renana, bus masih layak secara teknis dan ekonomis akan diperbaiki, dan dioperasikan kembali atau dialokasikan ke rute/kegiatan operasional yang berpotensi menghasilkan pendapatan. 

Bus yang memerlukan perbaikan dengan biaya tidak ekonomis akan dipertimbangkan untuk dijual atau dilepas sesuai dengan kebijakan perusahaan, dan ketentuan berlaku. Bus yang telah melewati usia ekonomis dan tidak layak operasi akan diusulkan untuk penghapusan aset melalui mekanisme persetujuan manajemen. 

Seluruh keputusan tindak lanjut akan didasarkan pada hasil kajian kelayakan teknis, finansial, dan  mempertimbangkan kebutuhan operasional perusahaan ke depan. Dengan rencana tersebut manajemen berupaya mengoptimalkan pemanfaatan aset, dan meminimalkan beban biaya tidak memberi nilai tambah bagi perusahaan.

Di sisi lain, perseroan berencana meluncurkan layanan cargo atau pengiriman barang dengan kolaborasi bersama ESL Express, sister company perseroan. Layanan cargo atau pengiriman barang akan dijalankan sebagai pengembangan usaha melalui unit bisnis ESL Express. Praktiknya, perseroan menyediakan armada bus, ruang bagasi, pengemudi, dan dukungan operasional pengangkutan barang pada rute tertentu.