Menanti Rebalancing MSCI, Ini Potensi Nasib CPIN dan GOTO
:
0
Ilustrasi nasib saham CPIN dan GOTO menjelang rebalancing indeks oleh MSCI pada 12 Agustus 2026 mendatang. Foto: AI
EmitenNews.com - Pelaku pasar tengah menantikan hasil MSCI August Index Review pada 12 Agustus 2026 mendatang. Di saat yang sama, MSCI masih mempertahankan status freeze terhadap penambahan saham Indonesia.
Perhatian pasar diperkirakan bergeser pada potensi perubahan konstituen, termasuk migrasi indeks dan penghapusan saham dari indeks.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai peluang masuknya konstituen baru relatif terbatas selama kebijakan freeze masih berlaku. Sebaliknya, potensi rebalancing atau deletion menjadi perhatian, terutama terkait evaluasi konsentrasi kepemilikan saham atau High Share Concentration (HSC).
“Jika tidak terdapat kejutan negatif, keputusan MSCI berpotensi menjadi katalis relief rally karena sebagian kekhawatiran sudah ter-price in. Sebaliknya, hasil yang lebih negatif dari ekspektasi dapat kembali memicu foreign outflow dan menekan IHSG,” ujar Nafan, Senin (10/8).
Nafan menyebutkan dua saham yang turut menjadi perhatian menjelang review tersebut adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
CPIN diperkirakan berpotensi mengalami downward migration, yakni turun dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Small Cap Index. Potensi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga saham yang signifikan sejak review Mei 2026.
Koreksi harga tersebut berdampak terhadap kapitalisasi pasar CPIN yang telah disesuaikan dengan foreign inclusion factor (FIF-adjusted market cap). Kondisi itu berpotensi membuat kapitalisasi CPIN berada di bawah ambang batas dalam kelompok Global Standard.
“Penyebab utamanya adalah penurunan harga saham secara signifikan sejak review Mei sehingga kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float (FIF-adjusted market cap) turun di bawah ambang batas indeks Standard,” tuturnya.
Sementara itu, posisi GOTO dinilai masih cukup kompleks. Dari sisi persyaratan likuiditas secara umum, GOTO masih dinilai memenuhi kriteria. Namun, harga saham yang lama bertahan di level Rp50 serta pelemahan likuiditas dalam jangka pendek dapat membuka ruang bagi MSCI untuk menggunakan diskresi, khususnya terkait aspek replicability.
“Harga saham yang lama bertahan di level Rp50 dan likuiditas jangka pendek yang melemah membuat MSCI memiliki ruang untuk menggunakan diskresi terkait aspek replicability sehingga hal ini membuat status GOTO masih belum pasti,” pungkas Nafan.
Related News
IPOT Padukan Esports dan Literasi Keuangan di Esports Kapolri Cup 2026
Harga Emas Meroket, IHSG Uji Level 6.500
Proyeksi IHSG (10/8), Bidik Level Di Atas 6.400, Cek Saham Ini!
IHSG Uji Area 6.554, Cermati Resistance dan Support Berikut!
Trimegah AM Luncurkan XTRA Sebagai Akses Baru Investasi Emas
Kemitraan Danantara–JBS Siapkan USD5M untuk Ekspansi Bisnis di ASEAN





