EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak mix cenderung koreksi. Kondisi menyusul pelemahan bursa regional. Investor domestik akan menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dengan konsensus akan naik 25 bps.
Selain itu, rupiah melemah tipis ke level Rp15.602. ”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 6.960, dan resisten 7.040,” tulis Ayu Dian, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia.
Secara teknikal, Indeks membentuk hanging man, dan berhasil memantul dari area support 6.960, sedang stochastic telah membentuk death cross. Beberapa saham memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini antara lain KEEN, AMAR, ARTO, PANI, BRPT, ASSA, GOTO, dan MPPA.
Kemarin Indeks anjlok 0,30 persen menjadi 7.014. Beberapa sektor mengalami pelemahan di antaranya basic materials minus 1,85 persen, infrastructure terpangkas 1,28 persen, dan properti turun 1,02 persen. Investor asing tercatat masih membukukan net sell pasar reguler Rp1,37 triliun. Saham paling banyak dijual asing antara lain BBCA, TLKM, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Sementara itu, ketiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street kompak ditutup melemah dipimpin Nasdaq tekor 1,54 persen. Rilis data retail sales AS pada Oktober melesat di atas ekspektasi pasar menjadi 1,3 persen MoM/8,3 persen YoY didorong optimisme inflasi landai membuat konsumsi rumah tangga meningkat.
Pagi ini, bursa Asia menyusuri zona merah. Indeks Nikkei 225 melemah 0,32 persen, dan Kospi melepuh 0,12 persen. Pagi ini, Jepang merilis data neraca perdagangan dengan ekspor tumbuh 25,3 persen YoY atau melambat dibanding bulan sebelumnya, dan impor naik 53,5 persen YoY. (*)
Related News
Bos BEI Sebut Ada Dua IPO Lighthouse di Awal 2026, Siapa Saja?
Beda Nasib Dua Saham Penghuni Terlama Papan Pemantauan Khusus
Melihat Lagi Gerak DCII dan DSSA, Saham dengan Harga Tertinggi per Lot
Ungguli Bursa Malaysia, IHSG Terbaik Ketiga ASEANĀ
POPSI Khawatir Kenaikan Pungutan Ekspor Lemahkan Daya Saing Sawit RI
TKDN Industri Hulu Migas Hingga 2025 Setara Rp388 Triliun





