EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu kompak ditutup menguat. Itu setelah beberapa hari terakhir mengalami pelemahan secara berturut-turut. Koreksi harga minyak mentah, dan sikap investor mengabaikan peluang kenaikan suku bunga acuan pasca-rilis data inflasi menjadi katalis positif utama pendorong penguatan tersebut.

Harga minyak mentah jenis WTI terkoreksi 2,4 persen menjadi USD100,5 per barel, dan Brent susut 2,8 persen menjadi USD104,61 per barel. Nah, dalam sepekan kedua jenis minyak itu, masing-masing menguat hampir 10 persen, dan 9 persen. Sementara itu, data inflasi Agustus tercatat naik 0,4 persen mom/3,4 persen yoy, sejalan ekspektasi pasar.

Inflasi inti yang mengeluarkan komponen harga energi, dan makanan naik 0,3 persen mom, sedikit lebih tinggi dari perkiraan. Pasca-rilis data inflasi, probabilitas kenaikan suku bunga acuan 25 bps meningkat menjadi 86 persen. Penguatan indeks bursa Wall Street, harga emas, dan tembaga diprediksi akan menjadi sentimen positif pasar.

Aksi jual masif investor asing berpeluang menjadi katalis negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Senin, 14 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.465-6.390, dan resistance 6.620-6.695.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan sejumlah saham berikut. Yaitu, Triputra Agro (TAPG), Astra Agro Lestari (AALI), Indosat Ooredoo (ISAT), Timah (TINS), Amman Mineral (AMMN), dan Merdeka Gold Resources (EMAS). (*)