EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kompak ditutup melemah cukup signifikan. Itu seiring aksi rotasi investor dari saham sektor teknologi ke sektor lebih defensif menjelang pemilu sela Amerika Serikat (AS) awal November 2026. Intel melemah 28,58 persen setelah merilis outlook kuartal empat cukup lemah terutama dipicu oleh melambatnya permintaan PC.

Sandisk membukukan koreksi 13,47 persen meski melaporkan kinerja keuangan kuartal tiga lebih baik dari ekspektasi, dan mengumumkan akan melakukan stock split dengan rasio 1:8. Selain dua emiten teknologi itu, beberapa emiten teknologi khususnya produsen semikonduktor juga terkoreksi cukup dalam, Advanced Micro Devices 10,88 persen, Broadcom 5,48 persen, dan Nvidia 4,22 persen.

Berbeda dengan emiten sektor teknologi, emiten sektor defensif seperti konsumer dan kesehatan berhasil membukukan penguatan. Di antaranya Walmart melejit 1,86 persen, Coca Cola melejit 1,36 persen, Merck menguat 2,18 persen, dan Amgen mengsalami lompatan 1,15 persen.

Koreksi indeks bursa Wall Street, dan harga komoditas mineral logam diprediksi menjadi sentimen negatif di pasar. Pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG, banyak aksi buyback saham, dan soliditas kinerja keuangan emiten sembilan bulan pertama 2026 berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 4.955-4.855, dan resistance 5.160-5.260. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Jasa Marga (JSMR), Bank BTPN Syariah (BTPS), Adaro Andalan (AADI), HM Sampoerna (HMSP), Wismilak (WIIM), dan Pertamina Gas Negara (PGAS). (*)