Merdeka Gold (EMAS) Tersengat Rumor Rencana IPO di Bursa Hong Kong
Potret papan perdagangan di Bursa Saham Hong Kong Exchange (HKEX). Foto: China.org
EmitenNews.com - Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) menjadi pergunjingan pasar setelah beredar kabar rencana dual-listing terkait pencatatan saham atau IPO di Bursa Hong Kong (Hong Kong Exchanges and Clearing Ltd/HKEX). Isu ini mencuat di tengah reli harga emas global dan Commissioning Operational Date (COD) atau dimulainya tahap produksi komersial perdana tambang emas Pani pada kuartal I/2026.
EMAS merupakan entitas usaha dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Sebelumnya, grup Merdeka mengelola tambang emas Tujuh Bukit di Banyuwangi serta tambang tembaga Wetar. Saat ini, EMAS difokuskan sebagai kendaraan bisnis emas dengan portofolio proyek berskala besar dan berjangka panjang.
Bloomberg melaporkan bahwa EMAS telah menunjuk Citic Securities Co., Morgan Stanley, dan UBS Group AG untuk mengkaji rencana penawaran saham di Hong Kong. Sejumlah sumber menyebutkan pembahasan masih berlangsung, termasuk terkait ukuran dan waktu aksi korporasi tersebut.
Namun hingga kini, manajemen EMAS maupun Merdeka Group belum memberikan pernyataan resmi terkait kepastian aksi korporasi tersebut. Begitupun UBS, Citic, dan Morgan Stanley belum menanggapi aksi terkait.
Berdasarkan selayang pandang Prospektus, EMAS tengah mengembangkan Proyek Emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Proyek ini memiliki potensi sumber daya sekitar 7 juta ons emas dan ditargetkan mulai memasuki tahap produksi komersial pada kuartal I/2026. Berdasarkan prospektus, Proyek Pani diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Dalam data EmitenNews.com mencatat bahwa rencana pengembangan Proyek Pani dirancang bertahap. Pada periode 2025–2026, EMAS akan mengoperasikan fasilitas heap leach berkapasitas 7 juta ton per tahun dengan target produksi sekitar 145 ribu troy ounce emas per tahun.
Selanjutnya, pada 2027–2029, perseroan berencana mengoperasikan fasilitas carbon-in-leach (CIL) berkapasitas 7,5 juta ton per tahun dengan target produksi meningkat menjadi 355 ribu troy ounce per tahun.
Pada tahap lanjutan, yakni 2029–2032, EMAS menargetkan peningkatan kapasitas fasilitas CIL menjadi 12 juta ton per tahun. Dengan ekspansi tersebut, produksi emas tahunan diproyeksikan mencapai hingga 500 ribu troy ounce.
Rencana listing di Hong Kong, jika terealisasi, dinilai dapat membuka akses pendanaan global yang lebih luas bagi EMAS, sekaligus memperkuat posisi perseroan di tengah kompetisi industri emas regional. Namun hingga kini, manajemen belum memberikan pernyataan resmi terkait kepastian aksi korporasi tersebut.
Saham EMAS ditutup menguat 3,78 persen atau 225 poin ke level Rp6.175 per saham pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Jika dilihat di sepanjang Januari 2026, harganya menguat 9,78 persen atau 550 poin.
Related News
Broker Boy Thohir (TRIM) Amankan Pelunasan Obligasi Jatuh Tempo Rp250M
PIPA Realisasikan 95 Persen Dana IPO, Sisa Rp3M Parkir di Bank OCBC
Kursi Kosong, Mutuagung (MUTU) Sampaikan Kabar Berpulangnya Komisaris
Kerja Sama Pembiayaan Rp300M BNI-Siemens Perkuat Ekosistem Kelistrikan
Diversifikasi Ekstrem IFSH: Dari Tambang Nikel ke Kebun Kelapa
Bos VKTR Lepas Separuh Saham, Kantongi Hampir Rp13 Miliar





