MIDI dan Amputasi Lawson, Mengapa Buang Aset Justru Pertebal Kantong?
PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Dok. IDX
EmitenNews.com - Laporan tahunan 2024 dan kinerja kuartal III-2025 PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) menyajikan sebuah drama korporasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar barisan angka pertumbuhan di atas kertas. Ditemukan sebuah fenomena yang sangat tidak lazim yang mana MIDI justru mencatatkan performa laba yang jauh lebih kinclong setelah mereka membuang unit bisnis "anak emasnya", Lawson.
Penurunan laba bersih di tahun 2024 yang sempat memicu pesimisme pasar kini berbalik menjadi lonjakan profitabilitas yang agresif di tahun 2025, menyisakan pertanyaan besar, apakah strategi "amputasi" ini adalah jawaban atas inefisiensi yang selama ini menghantui grup Alfamidi?
Paradoks Laba Terbelah di Tengah Dominasi Pasar
Melihat kembali ke tahun 2024, pendapatan neto konsolidasian MIDI sebenarnya mencatatkan angka yang cukup impresif dengan pertumbuhan 14,62 persen mencapai Rp19,89 triliun. Namun, kejutan pahit muncul saat kita mengintip baris laba bersih tahun berjalan yang justru melorot 7,89 persen menjadi Rp475,58 miliar.
Anomali yang paling mencolok dalam riset ini adalah lonjakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 5,76 persen, berbanding terbalik dengan total laba yang turun. Perbedaan tajam ini membisikkan kenyataan pahit bahwa kepentingan non-pengendali atau mitra di anak perusahaan menelan kerugian masif hingga Rp70,8 miliar, melonjak dari kerugian tahun sebelumnya yang hanya ratusan juta rupiah. Data ini memperkuat indikasi bahwa unit bisnis Lawson kemungkinan besar telah menjadi "lubang hitam" yang menyedot profitabilitas grup secara keseluruhan sebelum akhirnya dilepas.
Misteri Penyusutan Gerai dan Koreksi Model Bisnis
Sepanjang tahun 2024, narasi mengenai Lawson menjadi titik paling krusial dalam analisis ini karena adanya "hilangnya" ratusan gerai secara misterius. Laporan tahunan mencatat jumlah gerai Lawson hanya tersisa 374 gerai di penghujung tahun, sebuah penyusutan drastis dari data awal tahun yang sempat menyentuh angka 709 gerai.
Penurunan jumlah gerai yang hampir mencapai 50 persen ini mengonfirmasi adanya kegagalan strategi pada format store-in-store yang selama ini dibanggakan sebagai keunggulan kompetitif MIDI. Pengoperasian gerai premium di dalam gerai utama nampaknya tidak memberikan sinergi margin yang diharapkan, melainkan justru membebani grup dengan biaya operasional yang sangat mahal hingga memaksa manajemen melakukan restrukturisasi besar-besaran sebelum melakukan divestasi pada 14 Mei 2025 dengan nilai transaksi Rp200,46 miliar.
Strategi Relokasi "Si Anak Emas", Mengapa Lawson Ditarik ke Pangkuan Induk?
Fakta terbaru dari keterbukaan informasi mengungkap bahwa Lawson sebenarnya tidak benar-benar "dibuang" dari ekosistem Alfa, melainkan sedang menjalani reorganisasi kamar di dalam internal grup.
Pada 14 Mei 2025, terjadi sebuah transaksi afiliasi yang sangat strategis di mana sang induk, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), mengambil alih 70 persen kepemilikan saham Lawson dari tangan MIDI dengan nilai transaksi mencapai Rp200,46 miliar. Secara struktural, Lawson yang semula merupakan "cucu" usaha MIDI kini telah naik kasta menjadi anak usaha langsung di bawah kendali AMRT.
Langkah relokasi ini nampaknya merupakan strategi sentralisasi grup untuk memisahkan format retail minimarket Alfamidi yang sudah matang dan stabil, dengan format convenience store Lawson yang jauh lebih padat modal serta berisiko tinggi agar berada di bawah naungan kas AMRT yang jauh lebih tebal.
Bagi MIDI, efek dari relokasi "anak emas" ini terasa sangat instan dan memberikan napas baru bagi laporan keuangan mereka. Dengan tidak lagi harus mengonsolidasikan Lawson yang memiliki beban operasional tinggi dan padat karya, margin laba bersih (NPAT Margin) MIDI berhasil melonjak signifikan dari 2,89 persen menjadi 3,87 persen pada periode sembilan bulan pertama 2025.
Efisiensi ini terlihat sangat nyata dari menyusutnya beban penjualan dan distribusi MIDI menjadi Rp3,02 triliun, bahkan di tengah penambahan neto 92 gerai Alfamidi yang tetap berjalan agresif di sepanjang tahun 2025. Di sisi lain, sang kakak yakni AMRT kini memikul beban operasional Lawson secara langsung, yang menjelaskan mengapa beban penjualan di level induk membengkak hingga 10 persen dan melampaui pertumbuhan pendapatannya sendiri.
Head-to-Head Efisiensi, Siapa yang Paling Tangguh di 2026?
Sebagai kesimpulan untuk menimbang langkah investasi, pertempuran efisiensi antara AMRT dan MIDI di tahun 2026 akan sangat diuji oleh kemampuan mereka menyerap lonjakan inflasi pangan, di mana Indeks Ekspektasi Harga (IEH) Bank Indonesia diproyeksikan menyentuh level 168,6 pada Februari 2026.
AMRT saat ini memegang kendali penuh atas seluruh ekosistem termasuk beban Lawson, namun mereka harus berjuang keras melawan negative operating leverage yang cukup berat karena kenaikan beban operasional yang belum mampu diimbangi oleh pertumbuhan jualan. Sebaliknya, MIDI pasca-restrukturisasi tampil dengan profil yang jauh lebih "atletis" melalui pertumbuhan laba bersih 39,3 persen dan porsi gerai di Luar Jawa yang sudah mencapai 53,2 persen sebagai bantalan margin yang kokoh.
Related News
Di Balik Rekor ANTM, Ada Lubang Hitam dan Tantangan Valuasi Mengintai?
Dilema Sang Raja Retail, Menelisik Retakan di Balik Dominasi Alfamart
Mesin Uang Pakuwon, PWON Stabil karena Sewa atau Nilai Kurs?
Adu Raksasa Properti, Mengapa Laba CTRA Melesat Saat BSDE Tertekan?
Laba BSDE Melorot Drastis, Mengapa Hidden Value Ini Tetap Menggiurkan?
Ambisi Hijau ADMR, Mesin Pertumbuhan atau Jebakan Belanja Modal?





