Momen Ramadan Dorong Ekonomi Tumbuh dalam Catatan Indef-Celios
Ilustrasi Indef, dan Celios sama-sama memperkirakan momen Ramadan, dan Idul Fitri 1447 Hijriah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Indef mendata pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1–5,2 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026. Sedangkan prediksi Celios, ekonomi tumbuh 5,05 persen berkat musim Lebaran 2026. Dok. Liputan6.
EmitenNews.com - Dalam catatan dua lembaga pemikir, Indef, dan Celios sama-sama memperkirakan momen Ramadan, dan Idul Fitri 1447 Hijriah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Indef mendata pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1–5,2 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026. Sedangkan prediksi Celios, ekonomi tumbuh 5,05 persen berkat musim Lebaran 2026.
Kepada pers, Rabu (25/3/2026), Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman memperkirakan momen Ramadan dan Idul Fitri tahun ini, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi 5,1–5,2 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026.
“Secara agregat, momentum Lebaran diperkirakan menambah sekitar 0,2-0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun 2026,” kata Rizal.
Momentum Lebaran yang jatuh di awal tahun menciptakan efek front-loading, sehingga akselerasi pertumbuhan terkonsentrasi pada kuartal I.
Peningkatan belanja masyarakat didukung oleh pencairan tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial (bansos), serta stimulus mobilitas, yang secara langsung mendorong konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB).
“Lonjakan konsumsi ini juga menghasilkan efek pengganda yang cukup luas, terutama pada sektor ritel, transportasi, akomodasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong redistribusi aktivitas ekonomi ke daerah selama periode mudik,” tambah Rizal lagi.
Tetapi, penting dicatat, karakter dorongan pertumbuhan pada kuartal I relatif bersifat jangka pendek. Pasalnya, dorongan tersebut tidak diiringi peningkatan kapasitas produksi, sehingga lebih mencerminkan peningkatan utilisasi ekonomi dibandingkan perbaikan fundamental.
Jadi, meski pertumbuhan kuartal I berpotensi terlihat kuat, terdapat risiko normalisasi pada periode berikutnya. Konsumsi Lebaran cenderung temporer dan berbasis pada faktor musiman, sehingga berpotensi diikuti perlambatan pascahari raya, khususnya pada kelompok menengah bawah.
Karena itu, penting bagi pemerintah untuk memperkuat sumber pertumbuhan yang lebih struktural, utamanya dari sisi investasi dan ekspor, agar pertumbuhan ekonomi bisa berkelanjutan. Penguatan sumber pertumbuhan yang lebih struktural menjadi krusial agar kinerja ekonomi tidak hanya kuat secara siklikal, tetapi juga solid dalam jangka menengah.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 tumbuh di kisaran 5,5 persen hingga 5,6 persen (yoy). Target ini didorong oleh percepatan belanja negara, stimulus fiskal, dan penguatan daya beli masyarakat, khususnya di tengah periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Guna menjaga daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah telah meluncurkan paket stimulus ekonomi pada kuartal I-2026.
Salah satunya adalah insentif transportasi untuk mudik Lebaran berupa diskon tiket kereta api 30 persen, angkutan laut 30 persen, jasa penyeberangan 100 persen, serta potongan harga tiket pesawat 17–18 persen.
Catatan Celios pertumbuhan ekonomi mencapai 5,05 persen berkat faktor Ramadan
Dalam catatan Celios, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 mencapai 5,05 persen berkat faktor musiman Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Kepada pers, Rabu (25/3/2026), Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama 2026 mampu melampaui angka proyeksinya di 5,05 persen.
Sayangnya, terdapat beberapa tantangan yang membuat konsumsi rumah tangga relatif lebih terbatas. Pemicu pertama yaitu keputusan masyarakat yang cenderung menahan uang tunjangan hari raya (THR) untuk dibelanjakan dan memilih mengalokasikannya sebagai tabungan.
Kemungkinan besar keputusan itu dipengaruhi oleh kekhawatiran melonjaknya harga energi dan pangan usai Lebaran. Padahal, belanja masyarakat yang tertahan kemungkinan bakal menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Dengan adanya tantangan itu, Bhima menyarankan pemerintah untuk memperhatikan pengendalian inflasi pada periode mudik sehingga masyarakat lebih percaya diri untuk membelanjakan THR mereka.
Related News
Ekonomi Indonesia Tidak Baik-baik Saja, Cek Argumen Direktur PEPS Ini
Revitalisasi 60 Ribu Sekolah, Dikdasmen Usul Tambah Anggaran Rp89,5T
Hindari Kepadatan Arus Balik, Menhub Imbau Masyarakat Manfaatkan WFA
Arus Balik Mulai Terlihat, Penumpang Whoosh Tembus 21.500
Pascamudik Diperkirakan 10-12 Ribu Pendatang Baru Masuk Ibukota
Lewat Telepon PM Anwar dan Presiden Prabowo Bahas Konflik Timur Tengah





