MSCI Masih Bayangi IHSG, Investasi Saham Masih Relevan?
:
0
MSCI masih membayangi pergerakan IHSG di Bulan November 2026, investasi saham masih relevan? Foto: Ilustrasi EmitenNews
EmitenNews.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih diwarnai sentimen MSCI hingga pertengahan bulan November 2026.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta memproyeksikan pergerakan IHSG pada pekan pertama November bergerak sideways cenderung konsolidasi pada rentang 4.969 hingga 4.907, dengan area support psikologis berada di level 5.000 hingga 4.979 dan resistance terdekat pada kisaran 5.246 hingga 5.326.
“Meskipun sentimen MSCI diperkirakan masih menjadi bayangan utama (overhang) hingga pertengahan bulan, pasar menyimpan potensi pembalikan arah atau technical rebound,” kata Nafan kepada EmitenNews, Senin (2/11/2026).
Founder Republik Investor, Hendra Wardana juga mengatakan bulan November masih berpotensi dibayangi sentimen MSCI, meskipun katalis positif dapat muncul dari stabilisasi rupiah, perbaikan arus dana asing, kebijakan ekonomi pemerintah, serta laporan keuangan emiten kuartal III 2026.
“Menurut saya, kinerja fundamental yang baik belum tentu langsung mengangkat IHSG apabila persoalan kepercayaan belum terselesaikan,” kata Hendra.
Cermati Review MSCI di November
Ia juga mengingatkan, MSCI masih menjadi risiko utama yang harus dicermati investor. Terutama menjelang agenda November Index Review yang dijadwalkan diumumkan pada 11 November 2026, dengan perubahan efektif 1 Desember 2026.
Menurut Hendra, masih terdapat risiko saham-saham Indonesia yang dikurangi bobotnya maupun dihapus dari indeks penyedia indeks global itu. Terutama, apabila persoalan free float, konsentrasi kepemilikan, dan transparansi belum memenuhi standar investabilitas.
“Kebijakan freeze memang membatasi penambahan saham baru, kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), dan migrasi ke segmen indeks yang lebih tinggi, tetapi bukan berarti saham Indonesia sepenuhnya terbebas dari risiko pengurangan bobot atau penghapusan,” terang Hendra.
Apabila terjadi pengeluaran saham, tekanan jual dapat muncul dari dana investasi pasif yang mengikuti indeks dan berpotensi meluas ke saham lain akibat meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia. Di mana risiko yang lebih besar adalah proposal reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Related News
IHSG Awal November Menguat 0,79%, BUMI Ramai Diburu saat AADI Anjlok
Hadiah Terklaim 50% Lebih, KISI Challenge Beyond Tomorrow Makin Sengit
IHSG Siang (2/11) Berbalik Rebound 0,95% ke Atas Level 5.100
SMK Nusantara Pertahankan Gelar AXIS Nation Cup 2026
MSCI Masih Selimuti IHSG November 2026
HSC Resmi Didepak dari IHSG, Bursa Dibuka Terpangkas ke Bawah 5.000





