EmitenNews.com - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel membukukan pendapatan Rp7,01 triliun hingga September 2026, tumbuh 1,8% secara tahunan. Di tengah pertumbuhan yang terbatas, perseroan mencatat laba bersih Rp1,55 triliun, naik 0,8%, dengan EBITDA mencapai Rp5,81 triliun dan margin EBITDA sebesar 82,9%.

Kinerja tersebut ditopang oleh optimalisasi aset menara dan peningkatan pemanfaatan infrastruktur. Hingga akhir September 2026, Mitratel mengoperasikan 40.704 menara telekomunikasi dengan 24.333 kolokasi dan total 65.037 tenant.

Rasio kolokasi atau tenancy ratio perseroan meningkat menjadi 1,60 kali dari 1,55 kali pada September 2025. Kenaikan ini mencerminkan bertambahnya pemanfaatan menara oleh operator telekomunikasi, terutama melalui penambahan kolokasi di luar Pulau Jawa.

Selain bisnis menara, Mitratel memperluas infrastruktur fiber optik. Panjang fiber optik yang menghasilkan pendapatan atau billable fiber length mencapai 76.761 kilometer hingga September 2026, tumbuh 13,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menyatakan kinerja hingga kuartal III-2026 didukung pengelolaan operasional yang disiplin, optimalisasi aset, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan.

"Fokus kami tidak hanya pada pertumbuhan tetapi juga pada kualitas pertumbuhan dan keberlanjutan profitabilitas," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).

Perseroan juga mengandalkan analisis data untuk mengidentifikasi peluang kolokasi, memetakan kebutuhan jaringan, dan meningkatkan efektivitas strategi komersial. Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta Internet of Things (IoT) turut dimanfaatkan untuk mendukung pemantauan infrastruktur, pemeliharaan aset, dan efisiensi operasional.

Mitratel selanjutnya mengembangkan bisnis menuju Next-Generation TowerCo dengan tetap memperkuat bisnis inti menara dan fiber optik. Inisiatif yang dikembangkan antara lain Green Tower as a Service (GTAS) untuk mendukung efisiensi pengelolaan infrastruktur dan kebutuhan energi operator, serta pemanfaatan menara untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA) guna mendukung perluasan akses broadband.

Manajemen menyatakan strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas aset, menjaga disiplin belanja modal, serta menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital di Indonesia.