Pembentukan tim investigasi diperlukan dan dapat berdampak secara positif kepada publik maupun pemerintah. Penyelidikan menyeluruh dinilai bakal melegakan hati masyarakat, dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Jika tim investigasi dibentuk, Daniel Johan mengingatkan pemerintah agar dapat mengantisipasi hal serupa di kemudian hari.

Bila pemerintah tidak dapat mengantisipasi hal tersebut dan ditambah anomali cuaca yang dinilai akan semakin kuat, maka bencana alam yang terjadi di masa depan dapat menghancurkan wilayah yang terdampak.

Sebelumnya, rekaman video yang diunggah di media sosial memperlihatkan kayu-kayu gelondongan yang hanyut terbawa aliran banjir.

Sejumlah warganet mengaitkan kayu-kayu tersebut dengan fenomena deforestasi di wilayah Sumatera yang terdampak banjir dan longsor dalam beberapa waktu terakhir, seperti terjadi di Aceh, Sumut, maupun Sumbar.

Pada 28 November 2025, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho mengatakan bahwa berdasarkan dugaan sementara, kayu-kayu yang hanyut tersebut bekas tebangan yang sudah lapuk sehingga kemudian terseret banjir.

Dwi Januanto juga menduga kemungkinan besar kayu-kayu tersebut berasal dari pemegang hak atas tanah (PHAT) di areal penggunaan lain (APL).

Walaupun demikian, dia mengatakan pemeriksaan secara menyeluruh tetap diperlukan oleh tim Ditjen Gakkum Kemenhut. 

Sampai Sabtu sore kemarin, total korban meninggal dunia imbas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat mencapai 303 orang. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mencatat korban meninggal dalam bencana di Sumatera itu, paling banyak, atau setengah lebih berasal dari Sumatera Utara (Sumut) dengan 166 korban jiwa. 

"Saya akan uraikan dari Sumut, korban jiwa yang kemarin 116 korban jiwa, sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Kemudian 143 jiwa yang masih hilang," ucap Suharyanto.

Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir di wilayah Aceh, yang mencapai 47 korban jiwa. Aceh kondisinya per sekarang ada penambahan korban. Untuk pertama korban jiwa ada 47, 51 masih hilang, dan delapan luka-luka. 

“Data ini masih akan berkembang terus, karena ada beberapa pencarian pertolongan dari satgas gabungan ini menemukan korban," ucap urai Suharyanto. ***