OPEC+ Tahan Produksi, Minyak Brent Tembus USD102
:
0
Harga minyak mentah dunia bergerak stabil namun berada di level tinggi pada Senin (5/10). (Ilustrasi: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bergerak stabil namun berada di level tinggi pada Senin (5/10). Berdasarkan laporan Trading Economics minyak mentah acuan Brent bertahan di atas USD102 per barel, sementara minyak mentah jenis lainnya berada di kisaran USD91 per barel di tengah pemantauan ketat pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Lonjakan dan ketahanan harga energi global ini dipicu oleh pecahnya pertempuran di jalur distribusi utama serta keputusan aliansi produsen minyak OPEC+ yang memilih untuk tidak mengubah batas produksi harian untuk bulan depan.
Pasukan yang didukung Saudi di Yaman melancarkan operasi militer skala penuh untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi setelah berminggu-minggu ketegangan meningkat antara kelompok yang didukung Iran dan Arab Saudi.
Eskalasi militer tersebut mengancam keamanan Selat Bab el-Mandeb, titik strategis antara Laut Merah dan Teluk Aden yang dikuasai kelompok Houthi. Jalur perairan ini merupakan rute krusial yang diandalkan Arab Saudi untuk mengekspor minyak guna menghindari Selat Hormuz.
Di saat pasokan terancam gangguan berkepanjangan, para anggota utama OPEC+ sepakat pada akhir pekan untuk mempertahankan kuota produksi tetap tidak berubah. Keputusan menahan pasokan ini bertepatan dengan lonjakan harga solar hingga menyentuh rekor tertinggi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kondisi pasar energi yang tegang mendesak negara-negara anggota G7 mengambil tindakan bersama dengan melepaskan cadangan minyak darurat demi meredam gejolak harga di tingkat internasional.
Bagi pasar domestik Indonesia, tingginya harga minyak Brent yang menembus USD102 per barel menjadi sinyal kewaspadaan bagi beban subsidi energi dalam APBN. Perkembangan harga komoditas ini juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi imbas impor (imported inflation) pada harga BBM dan barang kebutuhan pokok di dalam negeri.(*)
Related News
Rupiah Tertekan Defisit Ganda, BI Dikritisi Jadi "Mesin Utang"
Bursa AS Menguat, Peluang Fed Tahan Bunga Capai 80 Persen
Dividen Interim ASII Rp3,89 Triliun, Recording Date 14 Oktober 2026
Inflasi Terkendali Surutkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Produk Sampel Nestle Dinyatakan tidak Aman oleh Regulator Pangan
Atasi Krisis, 80 Persen Cadangan Minyak Darurat Dilepas ke Pasar





