EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan hingga mendekati USD 75 per barel pada hari Rabu. Penurunan ini memperpanjang kerugian pasar selama tiga sesi berturut-turut dan mencatatkan kemerosotan mingguan lebih dari 10 persen seiring meningkatnya optimisme pasar atas potensi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Berdasarkan data Trading Economics, penurunan harga komoditas energi ini dipicu oleh perkembangan positif diplomasi di Timur Tengah. Qatar menyatakan bahwa proposal sementara telah disiapkan, sementara pihak Washington dan Teheran mengindikasikan bahwa negosiasi untuk memulihkan akses ke jalur air vital tersebut berjalan maju pada hari Selasa.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah membatalkan rencana aksi militer terhadap Iran guna memberikan kesempatan pada jalur diplomasi, seraya mengulangi tuntutannya agar Selat Hormuz segera dibuka kembali. Di sisi lain, pihak Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan proposal untuk mengizinkan negara-negara Eropa membersihkan ranjau dari jalur pelayaran strategis tersebut.

Pemerintah Iran juga menyatakan bahwa diskusi dengan pihak Oman mengenai pengamanan jalur pelayaran yang aman terus berlangsung secara intensif. Pada saat yang sama, Arab Saudi turut melanjutkan pembicaraan dengan militan Houthi Yaman melalui mediator Oman untuk mencegah memburuknya konflik di kawasan Laut Merah.

Dinamika penurunan harga minyak mentah global ini berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak nett (net oil importer), penurunan harga minyak dunia dapat meringankan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta menekan biaya logistik nasional.(*)