EmitenNews.com - Saham PT Hyundai Motor Company mengalami tekanan berat di pasar keuangan global setelah harganya anjlok hingga lebih dari 60 persen dari level puncak. Penurunan drastis ini dipicu oleh kombinasi faktor pelemahan pendapatan, tekanan nilai tukar mata uang, serta keterlambatan adopsi teknologi kendaraan otonom dibandingkan para pesaing global.

Berdasarkan laporan Biggo Finance, saham Hyundai Motor ditutup pada harga 289.500 won atau setara dengan USD220 pada perdagangan Rabu (15/10). Posisi tersebut merosot tajam dari harga tertinggi intraday sebesar 750.000 won atau sekitar USD570 yang tercatat pada 1 Juni, sehingga kapitalisasi pasar perseroan menyusut menjadi sekitar 63 triliun won atau setara USD47,6 miliar.

Kinerja penjualan global Hyundai Motor dalam tiga kuartal pertama tahun ini mencapai 2.886.763 unit, atau turun 7,0 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan di pasar domestik Korea Selatan tercatat anjlok 16,3 persen menjadi 448.181 unit, yang merupakan level terendah sejak krisis keuangan global 2008.

Penurunan penjualan tersebut diperparah oleh gangguan produksi akibat aksi mogok kerja selama 60 jam yang memangkas produksi sekitar 55.200 kendaraan. Selain itu, insiden kebakaran pada bulan Maret di fasilitas pemasok suku cadang Ahnjung Industrial, penuaan model Genesis, serta lambatnya pembaruan model utama turut membebani kinerja perseroan.

Dari sisi profitabilitas, laba operasional semester pertama turun 25,8 persen secara tahunan menjadi 5,3656 triliun won atau sekitar USD4,1 miliar. Margin operasi perseroan juga terkikis menjadi 5,6 persen dari sebelumnya 7,8 persen, sementara laba operasional kuartal ketiga diperkirakan berada di kisaran 2,4915 triliun won atau setara USD1,9 miliar.

Situasi di pasar luar negeri, khususnya China, mencatatkan tekanan yang lebih berat. Penjualan gabungan Hyundai Motor dan China turun di bawah 10.000 unit pada September, dengan pangsa pasar yang merosot tajam menjadi hanya 0,6 persen di tengah dominasi produsen kendaraan listrik lokal dan merek global seperti Tesla.

Bagi industri otomotif di Indonesia, tekanan kinerja dan pergeseran pangsa pasar pabrikan global asal Korea Selatan ini menjadi catatan penting dalam mengamati peta persaingan elektrifikasi dan adopsi teknologi kendaraan otonom di kawasan regional.(*)