EmitenNews.com - Kontrak berjangka minyak mentah WTI tetap sekitar $91 per barel pada Selasa setelah merosot lebih dari 6% pada sesi sebelumnya, sementara kontrak berjangka minyak mentah Brent tetap mendekati $97 per barel setelah anjlok lebih dari 6% di sesi sebelumnya karena meningkatnya optimisme mengenai kemungkinan kesepakatan AS-Iran yang akan mengakhiri konflik dan membuka Selat Hormuz terus membebani harga.

Presiden Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi berjalan dengan baik, meskipun ia memperingatkan bahwa serangan baru dapat terjadi jika pembicaraan gagal, sementara seorang mediator Pakistan dilaporkan memberi tahu China bahwa kesepakatan semakin dekat.

AS dan Iran saat ini sedang mendiskusikan kerangka kerja yang akan memperpanjang gencatan senjata selama sekitar dua bulan, di mana Washington akan mencabut blokade dan Teheran akan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, beberapa isu kunci tetap belum terpecahkan, terutama program nuklir Iran dan tuntutannya untuk mempertahankan otoritas atas lalu lintas maritim melalui jalur air yang vital.

Pada saat yang sama, ketegangan yang terus berlanjut di sekitar Hormuz, termasuk laporan serangan Amerika dan Israel terhadap kapal-kapal Iran, membuat investor tetap waspada.

Sehari sebelumnya harga minyak anjlok tajam menyusul komentar Trump bahwa negosiasi diplomatik dengan Iran mengalami kemajuan, meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi yang parah akibat konflik di Timur Tengah. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 5,9% menjadi $97,44 per barel pada pukul 7.45 pagi ET di sesi pagi hari Senin, turun di bawah angka $100 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir tiga minggu, sementara kontrak WTI yang sesuai turun dengan margin yang sama menjadi $90,99/bbl.

Meredanya inflasi dan kekhawatiran pasokan memicu reli pasar saham global, dengan Nikkei Jepang mencapai rekor tertinggi dan indeks berjangka AS mencatat kenaikan yang solid.

Pasar bereaksi terhadap kemajuan sementara dalam pembicaraan diplomatik AS-Iran. Data pelacakan menunjukkan pergerakan de-eskalasi, seperti kapal tanker Tiongkok yang berpindah keluar dari zona tegang, sementara cadangan minyak strategis IEA sebelumnya dimanfaatkan dengan kecepatan rekor untuk meredam tekanan pasar.(*)