Sinyal Suku Bunga Fed Tahan Indeks Dolar AS di Level 100
:
0
Indeks dolar Amerika Serikat bergerak fluktuatif di dekat level 100 pada hari Selasa. (Foto: Bank Sinarmas)
EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat bergerak fluktuatif di dekat level 100 pada hari Selasa. Pergerakan ini terjadi setelah mata uang paman sam tersebut pulih pada sesi sebelumnya, ketika para investor terus mengevaluasi prospek kebijakan moneter bank sentral Federal Reserve di tengah ketidakpastian yang masih berlanjut di kawasan Timur Tengah.
Presiden Bank of New York Fed, John Williams, menyatakan bahwa posisi kebijakan moneter saat ini tetap berada pada posisi yang baik. Williams juga menambahkan bahwa tingkat inflasi diperkirakan akan mereda secara bertahap selama paruh kedua tahun ini.
Menurut Trading Economics, para pelaku pasar saat ini memperkirakan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada bulan September mendatang. Prospek kenaikan ini mengemuka setelah bank sentral memilih untuk mempertahankan tingkat suku bunga tidak berubah pada pertemuan bulan Juli.
Perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat ini turut menjadi perhatian penting bagi para pelaku pasar keuangan dan investor di Indonesia. Arah pergerakan indeks dolar AS serta kebijakan suku bunga acuan global tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap dinamika arus modal serta stabilitas nilai tukar rupiah di pasar domestik.
Saat ini para investor sedang menunggu rilis data perdagangan internasional serta laporan lowongan kerja JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey) terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat.
Survei bulanan JOLTS ini menjadi indikator penting yang mengukur jumlah lowongan kerja, perekrutan baru, hingga tingkat pengunduran diri pekerja di Amerika Serikat. Data tersebut dinantikan pasar karena menjadi acuan utama Federal Reserve untuk mengukur keketatan pasar tenaga kerja dan tekanan inflasi upah sebelum menentukan arah suku bunga acuan.
Di pasar valuta asing lainnya, dolar AS mencatatkan penguatan kembali terhadap yen. Pergerakan ini terjadi setelah pihak Amerika Serikat dan Jepang mengonfirmasi adanya upaya terkoordinasi untuk mendukung mata uang Jepang tersebut.
Meskipun demikian, kemungkinan hadirnya intervensi tambahan dari otoritas terkait terus membuat para pelaku pasar tetap waspada dalam bertransaksi.(*)
Related News
Airlangga: Impor Mesin Melesat, Sinyal Produksi Geliat
Sinyal Damai Selat Hormuz Tekan Harga Minyak di Kisaran USD80
Langkah Cerdas Hadapi Risiko Ketidakpatuhan PMK 44/2026 di Era Digital
Program 3 Juta Rumah, Jamkrindo Jamin Pembiayaan Rp50,34 Triliun
Harga Batu Bara Acuan Periode I Agustus 2026, Naik Tiga Kategori
Impor Migas Melonjak, Juni 2026 Defisit USD0,45 Miliar





