Sinyal Damai Selat Hormuz Tekan Harga Minyak di Kisaran USD80
:
0
Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif di kisaran USD 80 per barel pada perdagangan Selasa. (Ilustrasi: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif di kisaran USD 80 per barel pada perdagangan Selasa. Pergerakan harga ini terjadi setelah pasar mencatatkan penurunan tajam sekitar 5 persen pada sesi sebelumnya, seiring perhatian investor yang tertuju pada potensi pembukaan kembali akses pelayaran Selat Hormuz.
Dinamika pasar pasar energi internasional saat ini dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah diplomatik kedua negara dipantau ketat oleh pelaku pasar global guna memastikan kepastian kelancaran jalur pasokan minyak mentah dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimisme terkait proses negosiasi tersebut dalam keterangan resminya.
"Proposal untuk pembicaraan ini merupakan kesempatan terakhir Teheran untuk mencapai kesepakatan, dan Hormuz akan segera dibuka kembali," ujar Presiden Donald Trump dikutip dari Trading Economics.
Pihak Iran memberikan respons atas pernyataan tersebut. Pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan langsung yang sedang berlangsung dengan pihak Amerika Serikat. Meski demikian, Iran mengonfirmasi bahwa diskusi dengan Oman sedang berjalan untuk meningkatkan keamanan dan kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Perkembangan pasokan global juga didukung oleh pemulihan rute distribusi di wilayah lain. Turki dan Irak resmi memperpanjang perjanjian pipa minyak utama selama satu tahun ke depan untuk memperkuat rute ekspor alternatif. Selain itu, Kazakhstan telah melanjutkan kembali aliran minyak mentah melalui Konsorsium Pipa Kaspia setelah sempat mengalami gangguan singkat.
Dari sisi suplai, aliansi produsen minyak OPEC+ menyetujui peningkatan produksi harian secara moderat. Kebijakan ini sekaligus menyelesaikan tahapan pemulihan pemotongan produksi yang direncanakan sejak tahun 2023.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak mentah dunia di level USD 80 per barel memberikan dampak langsung terhadap beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penurunan harga minyak dunia dan kepastian pasokan valuta asing dari sektor energi berpotensi meredam tekanan inflasi domestik serta memberikan sentimen positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), khususnya emiten di sektor energi dan manufaktur.(*)
Related News
Airlangga: Impor Mesin Melesat, Sinyal Produksi Geliat
Langkah Cerdas Hadapi Risiko Ketidakpatuhan PMK 44/2026 di Era Digital
Program 3 Juta Rumah, Jamkrindo Jamin Pembiayaan Rp50,34 Triliun
Harga Batu Bara Acuan Periode I Agustus 2026, Naik Tiga Kategori
Impor Migas Melonjak, Juni 2026 Defisit USD0,45 Miliar
Juli Terjadi Deflasi Sebesar 0,14 Persen





