EmitenNews.com - Harga emas dunia melesat mendekati level USD4.300 per ons pada perdagangan hari Kamis. Lonjakan ini mencatatkan penguatan selama empat sesi berturut-turut dengan kenaikan mencapai hampir 6 persen sepanjang pekan ini.

Tren positif komoditas ini terdorong oleh pangkasan proyeksi kenaikan suku bunga acuan serta kesepakatan pembukaan kembali sebagian Selat Hormuz yang berhasil menekan harga minyak dunia dan meredakan kekhawatiran inflasi global.

Meredanya kekhawatiran terhadap laju inflasi energi membuat para pelaku pasar keuangan mulai menyesuaikan ekspektasi kebijakan moneter. Menurut Trading Economics, pasar saat ini memangkas perkiraan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Pelaku pasar kini memperkirakan hanya ada satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, turun dari proyeksi pekan lalu yang mengantisipasi dua kali kenaikan.

Prospek pemangkasan ekspansi suku bunga tersebut memberikan dorongan kuat bagi pergerakan emas global. Dinamika harga logam mulia dunia ini memberikan sentimen langsung bagi pasar keuangan dan iklim investasi emas di Indonesia, mengingat pergerakan harga emas internasional menjadi acuan utama bagi para pelaku pasar serta investor domestik dalam menentukan strategi portofolio.

Penguatan harga emas semakin solid setelah kesepakatan koridor pelayaran melalui Selat Hormuz berhasil dicapai oleh pemerintah Iran dan Oman. Langkah diplomasi tersebut meningkatkan ekspektasi pemulihan aliran energi dari kawasan Timur Tengah.

Pada saat bersamaan, data tenaga kerja ADP melaporkan bahwa sektor swasta Amerika Serikat hanya menambah 44.000 pekerjaan pada bulan Juli. Angka ini menjadi yang terlemah sejak Januari sekaligus berada jauh di bawah estimasi pasar sebesar 70.000 pekerjaan.

Di tengah lonjakan harga emas dan pelemahan data ekonomi, pandangan dari otoritas moneter masih menunjukkan kehati-hatian. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menegaskan kembali posisinya terkait kebijakan suku bunga pada hari Rabu. Lisa Cook menyatakan bahwa ia tetap siap untuk menaikkan suku bunga jika inflasi gagal mereda, serta memperingatkan bahwa bank sentral mungkin tidak memiliki kemewahan untuk menunggu sebelum mengembalikan inflasi ke target 2 persen.(*)