EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,43% ke level 6.541,377 pada pekan 7–11 September 2026. Pelemahan dipicu sentimen risk-off global akibat eskalasi konflik AS–Iran dan harga minyak Brent yang menembus USD100 per barel.

Adapun, dalam riset Indo Premier Sekuritas, Minggu (13/9/2026) menyebut kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari The Fed. Di domestik, pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh arus dana asing yang berbalik keluar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net sell sebesar Rp3.360,7 miliar di seluruh pasar sepanjang pekan ini. Kondisi ini berbalik dari pekan sebelumnya 31 Agustus–4 September 2026, dimana asing justru membukukan net inflow Rp2.306 triliun di seluruh pasar dan Rp1.608 triliun di pasar reguler.

Pelemahan terjadi di 7 dari 11 sektor. Sektor Barang Konsumen Non-Siklikal turun 3,17%, Teknologi turun 3,14%, dan Properti turun 2,62%. Sementara sektor Industri menguat 2,03% dan Kesehatan naik 1,49%.

Saham dengan tekanan jual asing terbesar adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp1.480,9 miliar dan PT Vici Care Indonesia Tbk (VICI) Rp1.247,1 miliar. Adapun saham dengan pembelian asing terbesar adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp693,3 miliar dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp407,1 miliar.

Di pasar global, indeks Dow Jones melemah 2,53%, Hang Seng 3,30%, dan Nikkei 1,55%. Hanya KOSPI Korea Selatan yang menguat 3,33% dan SET Thailand naik 0,56%. ***