Efek Data Center! Laba DMAS Meroket 175% & Bebas Utang Bank
:
0
Efek Data Center! Laba DMAS Meroket 175% & Bebas Utang Bank. Dok. Emtrade
EmitenNews.com - PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan pada paruh pertama 2026. Emiten pengembang kawasan Kota Deltamas yang dikendalikan oleh Sinarmas Land (57,28 persen) dan korporasi asal Jepang, Sojitz Corporation (25 persen), ini membukukan lonjakan pendapatan yang didorong oleh realisasi serah terima lahan industri berskala besar kepada perusahaan penyedia pusat data atau data center.
Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Bersih
Kinerja keuangan konsolidasian DMAS pada enam bulan pertama 2026 memperlihatkan peningkatan yang solid. Pendapatan usaha tumbuh 194,03 persen menjadi Rp1,80 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp613,35 miliar. Sejalan dengan itu, beban pokok pendapatan ikut naik menjadi Rp526,43 miliar, sehingga laba kotor perusahaan tercatat sebesar Rp1,27 triliun atau naik 197,22 persen.
Setelah dikurangi beban usaha sebesar Rp182,29 miliar, DMAS membukukan laba usaha Rp1,09 triliun, tumbuh 233,72 persen secara tahunan. Peningkatan ini bermuara pada laba bersih entitas induk sebesar Rp1,19 triliun, naik 175,34 persen dari angka Rp433,01 miliar pada pertengahan 2025. Pencapaian ini secara langsung mengerek laba per saham (EPS) perseroan menjadi 24,74 per lembar saham.
Kontribusi Utama Lahan Industri dan Data Center
Segmen lahan industri di Greenland International Industrial Center (GIIC) memantapkan posisinya sebagai kontributor utama dengan porsi 96,72 persen dari total pendapatan. Nilai penjualannya mencapai Rp1,74 triliun, meningkat 218,40 persen secara tahunan. Realisasi pendapatan ini didominasi oleh empat pelanggan korporasi data center, yakni PT Digital Gayana Ekagrata (41,39 persen), PT Princeton Digital Group (24,90 persen), PT Indoedge Real Estate And Data Center (15,41 persen), dan PT STT GDC Indonesia (11,89 persen).
Selain lahan industri, arus pendapatan DMAS juga ditopang oleh segmen komersial sebesar Rp15,89 miliar, perumahan Rp13,88 miliar, komponen bunga Rp11,88 miliar, pendapatan sewa Rp9,46 miliar, dan perhotelan Rp8,07 miliar. Tingginya minat investor, khususnya di sektor teknologi, didukung oleh fasilitas kawasan GIIC yang menyandang status Objek Vital Nasional (Obvitnas), fasilitas KLIK untuk percepatan konstruksi, serta ketersediaan pasokan listrik premium, jaringan gas PGN, dan serat optik.
Ketahanan Margin dan Dinamika Operasional Sektoral
DMAS mampu mempertahankan tingkat margin laba kotor yang sehat di berbagai lini bisnis. Segmen lahan industri memimpin dengan margin kotor 70,76 persen (laba kotor Rp1,23 triliun). Sementara itu, lini komersial mencatat margin 65,72 persen, pendapatan sewa bermargin 58,26 persen, dan perhotelan memiliki persentase margin kotor tertinggi di level 89,68 persen.
Ditinjau dari kinerja operasional sektoralnya, segmen properti tampil sangat dominan dengan mencetak laba usaha Rp1,09 triliun dan laba periode berjalan sebesar Rp1,11 triliun. Segmen lain-lain, yang mencakup layanan pengelolaan lingkungan kawasan, turut mencatatkan pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp106,52 miliar dan menyumbang laba periode berjalan senilai Rp83,29 miliar. Namun, tantangan masih terlihat pada segmen perhotelan yang harus menanggung beban penyusutan dan administrasi, sehingga mencatatkan rugi usaha sebesar Rp191,36 juta dan rugi periode berjalan sebesar Rp610,76 juta.
Related News
TOWR Rambah Bisnis Fiber Optik, Klien XL dan Indosat Jadi Kunci
5 Saham RI Didepak Indeks Syariah FTSE, Aliran Modal Pindah ke Nvidia
Emiten Operator Bus Tije Dicap HSC, Digembok BEI, Kena Notasi C Pula
Bisnis Sewa Genset Meroket 1.574%, Begini Rapor Perdana BACH Pasca-IPO
Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan?
Lonjakan Pendapatan BNBR 45% Belum Cukup Lepas dari Tekanan Rugi





