Pembangunan Pabrik Baterai Mungkinkan RI Produksi Mobil Terjangkau
Prototip mobil listrik produksi SMKN 2 Palembang.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development UI (RESSED UI), Ali Ahmudi menilai Indonesia mampu memiliki produk kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang sangat terjangkau bagi masyarakat di masa depan. Nilai sebuah baterai dapat mencapai 35-40 persen dari total biaya produksi EV, dan optimistis kehadiran pabrik baterai domestik akan mengoreksi harga kendaraan listrik secara signifikan ke arah yang lebih terjangkau.
"Dalam kondisi normal, adanya pembangunan pabrik baterai di Indonesia akan menekan harga jual EV secara umum. Jika komponen utamanya harganya bisa ditekan, harga unitnya pasti turun," kata Ali dalam keterangannya, Sabtu (17/1).
Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi di Karawang dinilai efektif dorong industrialisasi dan peningkatan nilai tambah ekonomi yang besar bagi Indonesia. Indonesia tidak akan lagi bergantung pada ekspor bahan baku mineral mentah, dan beralih pada produksi baterai yang menjadi inti bagi banyak produk berteknologi tinggi, khususnya kendaraan listrik.
Ali Ahmudi menilai langkah pemerintah menerapkan pelarangan ekspor komoditas mineral mentah khususnya nikel sebagai awal bagi penguatan industri di dalam negeri. Saat ini, semakin banyak proyek hilirisasi nikel menjadi cell battery, termasuk di Karawang. Tren ini diharapkan dapat menjadi motor bagi peningkatan nilai tambah belasan kali lipat dibandingkan hanya menjual tanah atau bijih mentah nikel.
"Efeknya sangat besar, ada peningkatan pendapatan negara melalui PPN, terciptanya lapangan kerja dari proses pabrikasi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi ini harus ada kelanjutannya agar dampak penggandanya (multiplier effect) nyata bagi ekonomi nasional," tandasnya.
Ia menekankan bahwa langkah menuju industrialisasi memang memerlukan ketegasan regulasi. Hal ini penting agar Indonesia tidak terjebak menjadi sekadar negara perakit.
"Tidak boleh tergantung kepada produk luar terus-menerus, kalau pun ada teknologi luar, mereka harus membangun pabrik di Indonesia agar terjadi transfer teknologi. Memang akan ada kontraksi bisnis atau ekses jangka pendek, tapi dalam jangka panjang ini keharusan," tegasnya.
Negara melalui MIND ID terus konsisten mengawal pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia. MIND ID melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI) telah bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, Lygend (CBL) untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture).
Perusahaan yang diberi nama PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) tersebut digadang-gadang menjadi ujung tombak dalam pengembangan Ekosistem Baterai Terintegrasi.
CATIB saat ini tengah membangunan Fasilitas Produksi Battery Cells, Module & Pack yang direncanakan memiliki kapasitas awal sebesar 6,9 GWh pada fase pertama, dan akan diekspansi hingga mencapai kapasitas total 15 GWh pada fase kedua.(*)
Related News
Konsumsi Listrik Di SPKLU Melonjak 479 Persen Sepanjang Periode Nataru
Garuda Angkut 1,5 Juta Penumpang Selama Periode Nataru
Platform Digital Bikin UMKM Perempuan Tumbuh Pesat
IHSG dan Hampir Semua Indeks Saham Global Menguat, Cuma Dua yang Minus
Mengenal 4 Persen Rule, Rumus Financial Freedom saat Pensiun
Pertamina NRE Gandeng Suzhou Kembangkan Pembangkit Tenaga Sampah





