EmitenNews.com - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,44 triliun pada semester I-2026, turun 11% dibandingkan Rp2,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi lebih rendahnya pengakuan pendapatan penjualan lahan industri di Kendal akibat perbedaan waktu pencatatan.

Pendapatan dari pilar Pengembangan Lahan dan Properti tercatat sebesar Rp974,9 miliar, turun 32% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp1,44 triliun.
Penurunan tersebut terutama berasal dari pendapatan penjualan lahan industri yang turun 41% menjadi Rp783,7 miliar.

Manajemen KIJA, dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (2/8/2026) menjelaskan penurunan tersebut bukan disebabkan melemahnya permintaan, melainkan karena perbedaan waktu pengakuan pendapatan proyek di Kendal.

Di tengah penurunan tersebut, sejumlah lini usaha masih menunjukkan pertumbuhan. Penjualan lahan beserta bangunan pabrik siap pakai melonjak menjadi Rp94,3 miliar dari Rp18,3 miliar, sedangkan penjualan lahan dan rumah hunian meningkat menjadi Rp33,7 miliar dari Rp22,7 miliar, mencerminkan permintaan yang tetap sehat terhadap properti industri maupun residensial.

Sementara itu, bisnis Infrastruktur terus menjadi penopang pertumbuhan dengan pendapatan meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi pendapatan berulang (recurring income) pun naik menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian, dibandingkan 45% pada semester I-2025.

Dari sisi profitabilitas, KIJA mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, berbalik dari laba bersih Rp627,6 miliar pada semester I-2025. Manajemen menjelaskan rugi tersebut terutama dipicu sejumlah beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes menjadi pinjaman bank berdenominasi rupiah. Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen lindung nilai, serta percepatan amortisasi Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027.

Perseroan menilai refinancing tersebut merupakan langkah strategis untuk memperpanjang tenor utang menjadi 15 tahun, mengurangi risiko nilai tukar, memperkuat likuiditas, serta meningkatkan fleksibilitas keuangan dalam jangka panjang.

Di luar beban non-berulang tersebut, KIJA masih membukukan laba operasional sebesar Rp524 miliar, meski lebih rendah dibandingkan Rp822,8 miliar pada semester I-2025 akibat lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan.