EmitenNews.com - Penerapan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam sudah beberapa kali tertunda. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menduga lobi para pengusaha hingga ke lingkungan istana yang membuatnya beberapa kali tertunda. 

Awalnya, akan diterapkan Januari lalu, kemudian Maret, April, dan kini mundur lagi sampai 1 Juni 2026, DHE SDA akan diterapkan. Keterlambatan itu ikut memengaruhi pasokan dolar AS dalam negeri, yang berdampak terhadap pelemahan rupiah. 

Menkeu Purbaya mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). 

Purbaya mengungkapkan, aturan DHE sebenarnya direncanakan berlaku mulai Januari 2026. Namun, pelaksanaannya terus mundur hingga akhirnya dijadwalkan mulai berjalan pada Juni 2026. "Saya duga banyak pelaku bisnis yang melobi sampai ke istana. Jadi bukan Presiden ya, sekeliling-sekelilingnya ada yang memperlambat. Sekarang Juni. Itu keputusan berani dan saya pikir amat baik buat kita."

Hasil evaluasi Kementerian Keuangan menemukan selama ini devisa hasil ekspor banyak yang tidak bertahan di Indonesia. Dana dolar Amerika Serikat hanya singgah sesaat sebelum kembali dialirkan ke luar negeri. Banyak dolar AS masuk, ditukar ke rupiah, disalurkan ke bank kecil dengan cepat. 

“Segera setelah itu bank-bank itu mengirim ke luar negeri, ke Singapura. Sehingga dolar kita di sini habis. Jadi walaupun ekspor kita selalu surplus, dolar-nya lebih banyak, tapi nggak ada dampaknya ke cadangan devisa kita," kata mantan Ketua Lembaga Penjmin Simpanan tersebut.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor di bank-bank Himbara.  Langkah itu dilakukan agar pergerakan dana bisa dipantau lebih ketat oleh pemerintah. 

Yang Terbukti Memainkan Aturan Langsung Dicopot

Satu hal, Menkeu Purbaya juga menegaskan direksi bank pelat merah yang terbukti memainkan aturan tersebut akan langsung dicopot dari jabatannya. 

Pemerintah juga berharap pasokan valas bertambah dari penerbitan global bond yang baru dilakukan pekan ini. Nilainya mencapai USD3,4 miliar dalam dua mata uang dengan tenor lima tahun dan 10 tahun yang terdiri atas USD2 miliar dan 1,25 miliar euro.