EmitenNews.com - Tekanan harga komoditas mulai menggigit kinerja emiten batu bara milik taipan Low Tuck Kwong PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) pada awal 2026. 

BYAN membungkus pendapatan sebesar USD821,65 juta hingga 31 Maret 2026, terpantau turun 7,69 persen secara year on year (yoy) dari USD890,14 juta pada periode tahun sebelumnya.

Meski pendapatan turun, perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan sebesar 3,48 persen yoy menjadi USD554 juta dari USD574 juta. Namun demikian, laba bruto tetap terpangkas turun 15,28 persen yoy menjadi USD267,06 juta dari USD315,24 juta.

Sejalan dengan itu, laba sebelum pajak tercetak sebesar USD248,63 juta atau turun 12,02 persen yoy dari USD282,60 juta.

Sorotan utama terdapat pada laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang menyusut hingga 12,45 persen yoy menjadi USD190,79 juta dari USD217,91 juta.

Menengok posisi neracanya, total aset Bayan Resources meningkat 3,86 persen menjadi USD3,5 miliar hingga akhir Maret 2026 dari USD3,37 miliar pada akhir maret di 2025. Liabilitas terpatok turun 9,3 persen menjadi USD617,2 juta dari USD680,46 juta, sementara ekuitas tumbuh 7,43 persen menjadi USD2,89 miliar dari USD2,69 miliar.

Beriringan dengan terbitnya pembukuan keuangan Kuartal I-2026 ini, pada perdagangan Kamis (30/4) saham BYAN tercatat turun 0,87 persen di level/posisi Rp11.400.