EmitenNews.com - Daya beli sektor bahan bangunan tampaknya belum sepenuhnya marak pada awal 2026. PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk. (DEPO) asal konglomerasi Hermanto Tanoko itu mencatat penurunan penjualan sekaligus penyusutan laba bersih sepanjang kuartal I-2026.

Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Maret 2026, penjualan DEPO turun 8,25 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp640,48 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp698,09 miliar.

Di tengah pelemahan penjualan, Perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan 8,01 persen yoy menjadi tertakar Rp515,5 miliar dari sebelumnya Rp560,4 miliar. Namun, laba bruto tetap turun 9,27 persen yoy menjadi Rp124,89 miliar dibandingkan Rp137,65 miliar pada kuartal I-2025.

Tekanan semakin terasa setelah beban usaha meningkat 6,46 persen yoy menjadi Rp132,51 miliar dari Rp124,47 miliar. Kondisi tersebut membuat Perseroan berbalik mencatat rugi usaha Rp7,62 miliar, dari sebelumnya masih membukukan laba usaha Rp13,18 miliar.

Meski demikian, DEPO masih mampu mencetak laba sebelum pajak sebesar Rp16,58 miliar, turun 8,90 persen yoy dari Rp18,20 miliar. Penopang utamanya berasal dari pendapatan lain-lain neto yang melonjak menjadi Rp26,53 miliar dibandingkan Rp7,36 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat turun 14,68 persen yoy menjadi Rp13,25 miliar dari sebelumnya Rp15,53 miliar.

Dari sisi neraca, total aset Perseroan naik 1,32 persen menjadi Rp2,29 triliun hingga 31 Maret 2026, dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp2,26 triliun. Liabilitas meningkat 1,55 persen menjadi Rp923,67 miliar dari Rp909,51 miliar, sedangkan ekuitas tumbuh 1,48 persen menjadi Rp1,37 triliun dari Rp1,35 triliun.

Beriringan dengan terbitnya pembukuan keuangan Kuartal I-2026 ini, pada perdagangan terakhir Jumat (8/5) saham DEPO ambruk sedalam 10,62 persen di level Rp286.