EmitenNews.com - PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) terus berupaya menggenjot kontribusi penjualan untuk pasar ekspor. Sejumlah negara potensial pun dibidik Malindo Feedmill di tahun ini. 

 

Manajemen mengatakan, di tahun 2022 ini, MAIN melalui entitas anak usahanya, PT Malindo Food Delight (MFD), tengah menjajaki kemungkinan ekspor ke beberapa negara. Antara lain Jepang, Uni Emirat Arab, Timor Leste, Papua Nugini, dan Brunei Darussalam. 

 

Terkait target penjualan ekspor yang dibidik MAIN tahun ini, perseroan berharap kontribusi ekspor di tahun 2022 dapat lebih tinggi dibandingkan realisasi pada tahun sebelumnya. Kontribusi pasar ekspor terhadap total penjualan MAIN sebenarnya masih cukup mini, yakni di bawah 10% dari total penjualan. Meski begitu, MAIN akan tetap memaksimalkan setiap peluang yang ada untuk terus mengembangkan pasar ekspor ke depan.

 

Sejumlah strategi pun telah dijalankan MAIN untuk menggenjot bisnis ekspor. Salah satunya dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Malindo Food Delight dengan LULU Internasional untuk ekspor makanan olahan ke UEA pada tahun 2022 mendatang senilai US$ 100.000. 

 

Selain itu, MAIN juga melakukan MoU dengan salah satu pembeli di Jepang untuk ekspor produk olahan, seperti nuget, karage dan tempura di tahun 2022 ini. Juta.


Sebagai tambahan informasi, Malindo Feedmill (MAIN) pada kuartal III-2021 mencatat liabilitas Rp3,33 triliun. Melesat 32 persen dari per 31 Desember 2020 sejumlah Rp2,52 triliun. Itu terjadi menyusul terjadi perubahan signifikan pada sejumlah pos berikut.

 

Pinjaman bank per 30 September 2021 tercatat Rp2,61 triliun. Melesat 33 persen atau Rp650 miliar dari periode 31 Desember 2020 senilai Rp1,96 triliun. Lalu, utang usaha Rp324,86 miliar, naik 45 persen atau Rp101,28 miliar dari periode 31 Desember 2020 sejumlah Rp223,57 miliar.

 

Jadi, total pinjaman bank dan utang usaha per 30 September 2021 senilai Rp2,93 triliun. Bertambah Rp751,32 miliar atau 34 persen dari periode 31 Desember 2020 di kisaran Rp2.18 triliun. ”Pinjaman bank merupakan fasilitas kredit dari Bank Central Asia, Bank CIMB Niaga, dan Bank UOB Indonesia,” tutur Rudy Hartono Husin, Direktur Keuangan Malindo Feedmill, seperti dilansir Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (29/10). 

 

Manajemen mengklaim tidak penambahan fasilitas pinjaman investasi sepanjang 2021. Lompatan pinjaman perbankan Rp650,03 miliar terdiri dari pinjaman bank jangka pendek Rp683,32 milid untuk keperluan moda kerja. Lalu, penurunan pinjaman jangka panjang Rp33,28 miliar. Itu terjadi karena penarikan pinjaman Rp200 miliar dikurangi pembayaran kembali pinjaman Rp233,28 miliar.