EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,22 persen atau naik 15 poin ke level 6.971 pada penutupan perdagangan Senin (4/5/2026). 

Senior Technical Analyst, M. Nafan Aji Gusta, menyebut secara teknikal, IHSG sudah dalam keadaan oversold berdasarkan indikator RSI dan mulai terlihat berhasil rebound dari wave B. "Meski demikian, RSI dan Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif, namun volume mengalami kenaikan," ujar Nafan, Selasa (5/5/2026).

Berdasar aktivitas perdagangan kemarin, net foreign sell mencapai Rp791,28 miliar, dan year to date angkanya telah mencapai Rp45,38 triliun. Sedangkan performa indeks sejak awal tahun, masih terkoreksi 19,37 persen. Pada perdagangan hari ini lanjut Nafan, support area ada di kisaran 6.917 & 6.684, sementara resistance area ada kisaran 7.119 dan 7.244.

"Pada hari ini, para pelaku investor domestik sangat mengantisipasi angka pertumbuhan PDB Indonesia Triwulan I-2026. Hasil yang sesuai atau di atas ekspektasi dapat menjadi katalis positif untuk memperkuat indeks di tengah tekanan global, apalagi ketegangan antara AS dengan Iran kembali meningkat," ungkap Nafan.

Di samping itu, pasar juga tengah menanti hasil kinerja pertumbuhan PDB Indonesia Triwulan I-2026 semestinya diperkirakan menunjukkan performa solid. "Para pelaku investor disarankan mencermati rotasi sektor ke saham-saham tahan terhadap inflasi atau memiliki fundamental dividen kuat, dengan lebih spesifik kepada IDX Energy, IDX Basic, IDX Consumers, bahkan IDX Financials misalnya," katanya.

Adapun sejumlah saham dapat dicermati menurut Mirae Asset Sekuritas di antaranya; BUMI, HRTA, SOCI.

Secara terpisah, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menanggapi tren indeks yang masih melemah secara year to date. Menurut Herditya, pelemahan indeks dipicu sentimen global, khususnya ketidakpastian geopolitik konflik antara AS dan Iran.

Hal tersebut membuat asing banyak terpantau outflow dari pasar modal Indonesia. Herditya menambahkan, secara historis selama lima hingga 10 tahun, bulan Mei mencatatkan return negatif meskipun tidak seburuk pada bulan September.

Kami melihat pelemahan IHSG ini dipengaruhi oleh beberapa hal dari dalam ataupun secara global, dimana konflik Timur Tengah yang menimbulkan ketidakpastian dan juga outflow asing akibat downgrade outlook ekonomi dan perbankan Indonesia oleh lembaga asing masih mendominasi.

"Ada peluang untuk melanjutkan penguatan. Untuk sepekan, kami cermati penguatan (indeks) masih relatif terbatas," ujarnya.