Permintaan Domestik Jadi Motor, Produksi ANTAM Pecah Rekor
Ilustrasi PT ANTAM Tbk (ANTM)
EmitenNews.com - PT Antam Tbk (ANTM) menutup tahun 2025 dengan kinerja operasional solid di tengah tantangan regulasi, keterbatasan pasokan emas, dan dinamika industri tambang domestik. Penguatan operasional dan efisiensi biaya menjadi kunci Perseroan menjaga kesinambungan usaha sepanjang tahun lalu.
Corporate Secretary ANTM, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan bahwa ANTAM mampu mempertahankan resiliensi operasional dengan kinerja yang tetap positif.
“Melalui penguatan operasional, efisiensi biaya, dan pengelolaan rantai pasok yang terintegrasi, ANTAM tetap menjaga kesinambungan usaha dan membukukan kinerja yang positif sepanjang 2025,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Jumat, 30 Januari 2026.
Di segmen bijih nikel, ANTAM mencatatkan produksi dan penjualan tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir sejak pemberlakuan larangan ekspor mineral. Produksi bijih nikel sepanjang 2025 mencapai 16,11 juta wet metric ton (wmt), melonjak 62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan bijih nikel pun melesat 75 persen menjadi 14,58 juta wmt, seiring meningkatnya permintaan domestik.
Kinerja gemilang juga tercermin di segmen bauksit. Sepanjang 2025, ANTAM membukukan produksi bauksit sebesar 2,83 juta wmt dan penjualan 1,89 juta wmt, masing-masing tumbuh 112 persen dan 157 persen secara tahunan. Capaian ini sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Perseroan, didukung optimalisasi tambang dan meningkatnya serapan pasar dalam negeri.
Sejalan dengan itu, produksi Chemical Grade Alumina (CGA) turut mencetak rekor baru. Produksi alumina mencapai 181.690 ton, tumbuh 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tingkat utilisasi dan stabilitas operasional yang terus terjaga.
Sementara di segmen emas, ANTAM membukukan total produksi 743 kilogram sepanjang 2025. Dari sisi penjualan, emas tetap menjadi kontributor utama dengan volume penjualan mencapai 37.406 kilogram. Wisnu menegaskan, tingginya ketidakpastian global menjaga permintaan emas tetap solid.
"Di tengah volatilitas nilai tukar dan perubahan suku bunga, produk emas ANTAM tetap menjadi top of mind bagi masyarakat Indonesia dalam berinvestasi emas," jelasnya.
Untuk feronikel, ANTAM merealisasikan produksi 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan seluruh penjualan terserap pasar ekspor, terutama ke Korea Selatan, India, dan Tiongkok.
ANTAM menegaskan komitmennya untuk terus menerapkan praktik pertambangan yang baik dan prinsip ESG secara konsisten, seiring upaya menjaga kinerja berkelanjutan di seluruh lini usaha.
Related News
Realisasi Dana IPO Nol, Cek Jawaban YUPI Saat Dicecar Pertanyaan BEI
Target 2025 Terlewati, Prapenjualan BSDE Tembus Rp10 Triliun
MYOH Ketok Palu, Pinjaman Tahap II Rp25 Miliar Masuk Kas TRJA
Danatama Kapital Jual 5,12 Persen Saham BULL ke Kingswood Union
Prospek Positif, Direktur Utama Borong 19,7 Juta Saham NEST
Saham Meroket 959 Persen, Begini Penjelasan Tirta Mahakam (TIRT)





