EmitenNews.com - Harga emas dunia mempertahankan tren penguatan dan diperdagangkan mendekati level USD4.500 per ons pada perdagangan Jumat. Kenaikan harga selama dua sesi berturut-turut ini dipicu oleh komentar cenderung lunak (dovish) dari pejabat Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Gubernur The Fed Christopher Waller memberikan sinyal untuk menahan pengetatan moneter. Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam pada nilai tukar dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang kemudian memberikan dorongan kuat bagi pergerakan harga emas.

Trading Economics melaporkan respons pasar terhadap pernyataan tersebut membuat probabilitas kenaikan suku bunga AS pada September merosot menjadi 50%. Proyeksi ini turun signifikan dari posisi sehari sebelumnya yang mencapai 63%.

"Saya akan lebih memilih mempertahankan suku bunga tidak berubah jika tekanan harga terus mereda," ujar Waller.

Kendati harga emas terkerek naik, pelaku pasar tetap mencermati rilis laporan ketenagakerjaan (payroll) serta data inflasi pekan depan guna mendapat petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan moneter AS. Di sisi lain, harga minyak dunia melesat akibat ketegangan di Timur Tengah dan Selat Hormuz, sehingga risiko inflasi global tetap berada dalam pantauan investor.

Pergerakan harga emas global ini menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan di Indonesia. Penguatan emas dunia biasanya berdampak langsung pada kenaikan harga emas batangan domestik, yang kerap dimanfaatkan investor lokal sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah potensi risiko inflasi energi.(*)