EmitenNews.com - Proyek strategis panas bumi Pertamina Geothermal Energy (PGEO) mendapat dukungan pendanaan internasional. Dukungan itu, diperoleh setelah tiga proyek masuk Green Book 2026 Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas).

Capaian itu, mencerminkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya, seiring kinerja bisnis, dan operasional terus menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasar laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGEO mencatat peningkatan laba bersih 40 persen menjadi USD43,90 juta, dibanding periode sama tahun lalu USD31,35 juta. 

PGEO juga membukukan pendapatan USD116,56 juta atau meningkat 14,8 persen dibanding edisi sama tahun lalu USD101,507 juta. Pertumbuhan itu, didorong efektivitas strategi bisnis berkelanjutan. Kinerja positif ditopang pertumbuhan produksi konsisten. Pada 2025, PGEO mencatat produksi tertinggi sepanjang sejarah alias all-time high (ATH) dengan total produksi 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55 persen dibanding edisi 2024 hanya 4.827 GWh.

Tren positif itu, berlanjut pada kuartal I-2026, ketika produksi listrik meningkat 15,22 persen menjadi 1.370 GWh. Di tengah peningkatan kebutuhan energi bersih, dan tantangan ketahanan energi global, proyek-proyek PGEO massuk Green Book 2026 Bappenas menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya.

Kinerja positif PGEO makin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis, dan pengembangan sejumlah proyek. Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional dapat mendukung percepatan realisasi proyek. Pencapaian itu, juga meningkatkan visibilitas, dan daya tarik proyek-proyek di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global.

“Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek makin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan PGEO sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional,” tegas Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yani. 

Ketiga proyek tersebut meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 (55 megawatt/MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta PLTP Lahendong Unit 7-8 (50 MW). Masuknya ketiga proyek itu, dalam Green Book, pendanaan diharap dapat membantu perseroan mempertahankan cost of debt kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.

Selain membantu menjaga struktur pendanaan sehat, dan mempertahankan cost of debt kompetitif, masuknya ketiga proyek itu, juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberi nilai tambah berkelanjutan, dan para pemangku kepentingan. Green Book 2026 secara resmi bernama Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 memuat proyek-proyek nasional berhasil mendapat komitmen pendanaan luar negeri dikoordinasikan Pemerintah Indonesia melalui berbagai mitra pembangunan internasional.

Daftar tersebut disusun berdasar Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. 52/M. PPN/IIK/06/2026. Sebelumnya, proyek-proyek itu, telah masuk Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025-2029 (Blue Book) Bappenas yang telah memenuhi berbagai aspek kesiapan teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan yang dipersyaratkan.

Masuknya proyek dalam Green Book menjadi tonggak penting menuju implementasi, dan pengembangan lanjutan. Ketiga proyek itu, tercantum dalam skema onlending melalui pembiayaan concessional loan menawarkan suku bunga lebih atraktif, dan tenor lebih panjang dibanding pembiayaan komersial. Nilai total pinjaman tercantum dalam Green Book 2026 mencapai USD477,87 juta. Dengan rincian PLTP Lumut Balai Unit 3 (target COD 2030) USD158,86 juta dari JICA, PLTP Lumut Balai Unit 4 (target COD 2032) USD148,97 juta dari JICA, dan PLTP Lahendong Unit 7-8 (target COD 2030) USD170,04 juta dari World Bank.