EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 1,5 persen menjadi 8.396. Lompatan itu refleksi positif investor terhadap tindakan Mahkamah Agung membatalkan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump kemudian menyatakan akan memberlakukan tarif global baru 15 persen. 

Investor berharap perjanjian dagang antara AS-Indonesia sudah diteken pekan lalu batal, karena dalam perjanjian tersebut tarif yang ditetapkan lebih tinggi, yaitu 19 persen. Selain itu, faktor positif juga dari MSCI yang menyetujui proposal Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rupiah juga ditutup menguat pada level Rp16.802 per dolar AS (USD). Sementara itu, data money supply M2 Indonesia Januari 2026 meningkat 10 persen YoY dari Desember 2026 di level 9,6 persen YoY. Secara teknikal, histogram MACD berlanjut bergerak menguat di teritori positif, dan didukung kenaikan volume beli. 

Namun, stochastic RSI mulai melambat, dan berada di area overbought. Indeks ditutup di atas level MA20. Sehingga indeks diramal berpeluang melanjutkan penguatan, dan menguji level support 8.450, dan resistance 8.500 kalau dapat ditutup di atas level 8400. Realisasi belanja negara Rp227.3 triliun per 31 Januari 2026 atau tumbuh 25,7 persen YoY. 

Kenaikan itu, menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun, khususnya untuk mendukung program prioritas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Secara rinci, belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp131,9 triliun, dan transfer ke daerah (TKD) senilai Rp95,3 triliun. 

Melihat lajunya, belanja pemerintah pusat meningkat hingga 53,3 persen YoY, dan transfer ke daerah hanya tumbuh tipis 0,6 persen YoY. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor untuk saham Bank BRI (BBRI), Barito (BRPT), Unilever (UNVR), Essa Industries (ESSA), dan Timah (TINS) sebagai Saharan investasi. (*)