Potensi Penjualan Biofuel Capai 60 Juta Kl pada 2029
:
0
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, pada diskusi panel bertema “Decarbonization : Global Technology Trends and Best Practices” Rabu (3/6).(Foto: Pertamina)
EmitenNews.com - Dalam mendukung ketahanan serta transisi energi menjalankan dual growth strategy, yakni memaksimalkan potensi nilai di aspek hulu, membangun fleksibilitas di kilang, melakukan transformasi bisnis retail fuel, serta memperluas infrastruktur dan layanan. Dan kedua, membangun bisnis rendah karbon (building low carbon business).
Dalam paparannya pada diskusi panel bertema “Decarbonization : Global Technology Trends and Best Practices” Rabu (3/6) Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan bagaimana transisi energi di jalankan dalam upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060.
Agung mengatakan, Pertamina saat ini memiliki visi, menjaga keamanan energi nasional dan mendorong transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan membangun bisnis rendah karbon. Hal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam konteks Pertamina, jelas Agung, transisi energi yang dijalankan di Indonesia harus diseimbangkan dengan tantangan energi trilema yaitu Energy security, affordability dan juga sustainability.
"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung.
Inisiatif dan langkah untuk melakukan dekarbonisasi yang dilakukan Pertamina menjadi pembelajaran bagi para peserta dari berbagai negara.
“Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage),” urai Agung.
Dalam aspek dekarbonisasi, dilakukan pengantian peralatan berbahan bakar fosil dengan peralatan bertenaga listrik. Program ini menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 MMtCO2e (Million Metric Tons Of Carbon Dioxide), menyumbang 66,86 persen dari total upaya pengurangan emisi Pertamina.
Dalam aspek bisnis rendah karbon, dilakukan melalui inovasi bahan bakar nabati (biofuel). Diprediksi akan ada potensi penjualan biofuel sebesar 60 Juta kl pada tahun 2029, dengan proyek utama Bio Refinery Cilacap.
Pertamina berupaya memaksimalkan potensi listrik dengan kapasitas 1,4 GW (Gigawatt) dari panas bumi melalui proyek di Hululais dan Lahendong. Salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan adalah Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang telah masuk dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas untuk mendukung transisi energi dan pembangunan rendah karbon.
Related News
Berharap AS-Iran Capai Solusi, Harga Emas Stabil, Emas Antam Naik
Devisa Jepang Tersedot USD77,11 Miliar Untuk Tahan Yen
Indonesia Mendapat Pengecualian Tarif dari AS Terkait Isu Kerja Paksa
WNI Tak Wajib Beli Merah Putih Bond, Yang Benar Menkeu Siapkan Ini
Ini Panduan Memilih Broker Forex Terbaik 2026 Bagi Pemula
Fitch Revisi Prospek Maskapai Penerbangan dari 'Stabil' ke 'Memburuk'





