Prospek Saham BUMI: Bobot LQ45 Naik, Dividen?
:
0
Prospek Saham BUMI: Bobot LQ45 Naik, Dividen? Ilustrasi oleh Ida Farida
EmitenNews.com - Menyambung pencapaian positif di akhir tahun keuangan 2025 di mana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sukses menghapus tumpukan kerugian hingga triliunan rupiah, kuartal pertama tahun 2026 menjadi ajang pembuktian. Catatan kekayaan dan kewajiban perusahaan (neraca) yang kini sudah bersih memberikan keleluasaan besar bagi BUMI untuk memperluas bisnisnya. Laporan keuangan gabungan antara induk dan anak perusahaan untuk periode sementara (Laporan Keuangan Konsolidasian Interim) ini memperlihatkan bahwa BUMI tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai berlari kencang.
BUMI berhasil mencetak keuntungan bersih yang didapat setelah dikurangi semua biaya (bottom line atau laba periode berjalan) sebesar USD41,09 juta pada tiga bulan pertama (Q1) 2026. Capaian ini melonjak 36,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya (year-on-year), yang hanya sebesar USD30,06 juta. Peningkatan laba ini sejalan dengan naiknya total uang masuk dari penjualan sebelum dipotong biaya (top line atau pendapatan) sebesar 19,7 persen menjadi USD417,65 juta, yang didominasi oleh kuatnya penjualan ekspor.
Di balik deretan angka tersebut, ada perubahan kondisi keuangan dan bisnis (fundamental) yang sangat penting bagi arah BUMI ke depan.
BUMI Tuai Hasil, Pintu Dividen Tetap Terbuka
Efek dari aksi korporasi "Kuasi Reorganisasi" pada akhir 2024 terus memberikan dampak nyata pada struktur modal BUMI. Kuasi Reorganisasi adalah prosedur akuntansi resmi yang ibarat menekan "tombol reset" untuk menghapus jejak kerugian masa lalu. BUMI menggunakan selisih lebih harga jual saham masa lalunya (agio saham) untuk menghapus kerugian raksasa sebesar USD2,28 miliar. Hasilnya, pembukuan perseroan kini jauh lebih sehat.
Pada Q1 2026, BUMI mampu menjaga kumpulan keuntungannya yang belum dibagikan (Saldo Laba Ditahan atau Retained Earnings) tetap positif di angka USD105,15 juta. Secara aturan hukum, memiliki saldo laba yang positif adalah syarat mutlak agar sebuah perusahaan terbuka bisa membagikan keuntungan (dividen) kepada pemegang sahamnya. Dengan sisa agio saham yang masih tebal di angka USD999,52 juta dan modal bersih (ekuitas) yang membaik menjadi USD1,63 miliar, peluang BUMI untuk membagikan dividen perdananya pasca-krisis menjadi semakin masuk akal.
Baca Juga: BUMI Dikendalikan Mach Energy Salim-Bakrie, Fokus Ekspansi Bergeser
Ekspansi Masif ke Sektor Emas dan Tembaga
BUMI tidak hanya membersihkan beban masa lalu, tetapi juga agresif mencari sumber uang baru di luar sektor batu bara. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, Grup BUMI resmi membeli dan mengambil alih (mengakuisisi) beberapa perusahaan mineral strategis.
BUMI mengakuisisi Jubilee Metals Limited (kepemilikan 64,98%) dan Wolfram Limited (kepemilikan 100%), yang keduanya merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga di Australia. Rangkaian pembelian ini memunculkan catatan nilai tambah tak berwujud seperti potensi masa depan (Goodwill Neto) sebesar USD115,47 juta di dalam neraca perusahaan.
Related News
Pantaskan Diri Masuk LQ45, Laba Bersih DEWA Terbang Mengangkasa
Lawan BYD, Astra (ASII) Kuasai Market Share Otomotif Meski Laba Lesu
Tumbuh Setipis Tisu, Laba Bersih BBNI Tertahan Risiko Kredit Macet
Saham Murah Selalu Layak Beli? Cara Bedain Saham Diskon & Value Trap
Penantian 4 Tahun, GOTO Akhirnya Untung Berkat Rombak Bisnis
Emas ANTM Laris Manis Tanjung Kimpul, Megaproyek EV Jalan Senyap





