EmitenNews.com - Perubahan batasan auto rejection bawah (ARB) menjadi asimetris 7 persen menjadi respons Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca kejatuhan saham pada Jumat (16/10).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa penyesuaian ARB baru oleh BEI merupakan langkah taktis regulator untuk merespons kejatuhan harga saham dan tekanan jual masif yang terjadi pasca pengumuman MSCI.

“Dinamika terkait isu MSCI tersebut sempat memicu aksi panic selling meluas di pasar,” kata Nafan kepada EmitenNews, Senin (19/10) pagi.

Sebab dengan memangkas batas ARB dari yang sebelumnya 15 persen menjadi 7 persen, BEI dan OJK berupaya menyediakan rem darurat guna memberi jeda bagi para pelaku pasar agar dapat mencerna informasi secara lebih rasional serta menahan volatilitas harga yang terlalu ekstrem.

Selain itu, lanjut Nafan, kebijakan ini berpengaruh cukup signifikan terhadap pergerakan IHSG, terutama dalam menahan kejatuhan indeks secara mendadak dalam satu hari perdagangan.

“Pembatasan ini secara matematis mengunci penurunan harga saham-saham berbobot besar agar tidak merosot lebih dari 7 persen per hari, sehingga mampu meredam koreksi tajam IHSG secara sekaligus dan menenangkan psikologi investor ritel,” tambahnya.

Kendati begitu, Nafan juga menuturkan terdapat konsekuensi atas perubahan batas ARB tersebut. Di antaranya berpengaruh terhadap proses pencarian harga keseimbangan baru yang dapat berlangsung beberapa hari berturut-turut.

“Terdapat konsekuensi di mana proses pencarian harga keseimbangan baru bisa memakan waktu beberapa hari berturut-turut (auto reject beruntun) jika tekanan jual masih tinggi, yang berisiko menahan tingkat likuiditas market untuk sementara waktu,” ujar Nafan.

Senada, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana juga melihat penerapan ARB asimetris ke 7 persen diperkirakan mampu menahan kejatuhan saham lebih dalam.

Pasalnya, pada perdagangan terakhir (16/10), IHSG jebol 11,57 persen, bahkan secara mingguan anjlok 14,91 persen. "Penerapan ARB Asimetris ini kami perkirakan untuk menahan kejatuhan harga pasca tekanan dari MSCI, namun demikian kami mencermati tekanan pada pasar kemungkinan masih akan muncul," tuturnya.