Respons Ancaman MSCI, BI Perkuat Insentif Tarik Inflow
:
0
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Foto: News Schoolmedia)
EmitenNews.com - Bank Indonesia (BI) merespons serius isu terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari emerging market menjadi standalone market. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gubernur BI Destry Damayanti usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Destry mengakui bahwa isu mengenai MSCI sempat memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta capital outflow di pasar keuangan domestik selama beberapa hari terakhir, sehingga menjadi bahan diskusi serius selama dua hari berlangsungnya RDG 20-21 Oktober. Meski demikian, bank sentral menilai tekanan tersebut masih berada dalam batas yang relatif normal di tengah kondisi regional yang kurang stabil.
"Apa yang terjadi di MSCI tentu menjadi perhatian kita juga. Kami juga melakukan asesmen dan memang sempat dua hari juga rupiah mengalami tekanan pada saat itu, tapi kami masih melihat bahwa tekanannya masih relatif dalam batas yang cukup normal," ujar Destry.
Menghadapi potensi risiko tersebut, Bank Indonesia memperketat pemantauan terhadap pergerakan outflow serta mengoptimalkan bauran kebijakan moneter yang lebih terarah. BI berfokus untuk menarik kembali aliran modal asing (inflow) ke pasar domestik melalui penguatan insentif bagi investor.
Gubernur BI menjelaskan bahwa fokus utama bank sentral saat ini adalah mendatangkan kembali arus modal masuk yang lebih terarah (targeted). Hal ini dilakukan dengan mengoptimalkan pemberian insentif kepada para investor yang menempatkan dananya untuk membeli portofolio keuangan Indonesia, baik dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun instrumen pinjaman lainnya.
Salah satu insentif utama yang diberikan oleh BI adalah pengintegrasian skema Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Bank Indonesia memberikan fasilitas pengurangan biaya lindung nilai (hedging) kepada investor hingga sebesar 45 persen. Langkah ini diambil guna meningkatkan daya tarik aset-aset domestik di mata investor asing.
Pemberian insentif melalui instrumen swap maupun DNDF ini sebenarnya telah berjalan secara konsisten sejak Juni hingga Oktober 2026. Kebijakan tersebut terbukti efektif dengan mencatatkan total arus modal asing masuk (inflow) mencapai USD9,9 miliar selama periode tersebut.
Destry menambahkan, kombinasi antara penyesuaian harga (repricing) pada aset-aset keuangan domestik seperti SBN dan besaran insentif yang diperbesar berhasil melebarkan spread antara aset domestik dengan aset berdenominasi Dolar AS. Kondisi ini dinilai membuat imbal hasil aset pasar keuangan Indonesia menjadi semakin kompetitif dan menarik bagi pemodal global.(*)
Related News
Net Sell Sesi I Sentuh Rp581M, Bank Pelat Merah Ramai Dilepas Asing
IHSG Sesi I (21/10) Terkoreksi 0,84% ke Level 5.234
Perluas Kredit, Easycash dan Krom Bank Jalin Kemitraan Loan Channeling
IHSG Bergerak Labil, Sempat Dibuka ke 5.300 Lalu Berlanjut Anjlok
Butuh 20 GW, Pemerintah Sinkronkan Data Center dan Pasokan Energi
IHSG Makin Kinclong, Serap Saham-saham Berikut





