EmitenNews.com - Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso menegaskan komitmen Indonesia untuk memenuhi target liberalisasi akses pasar sebesar 80 persen dalam perundingan ASEAN–India Trade in Goods Agreement (AITIGA) Review. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal di Jaipur, India, pada Jumat (7/8).

Target pembebasan tarif sebesar 80 persen ini meningkat signifikan dibandingkan tingkat liberalisasi Indonesia saat ini yang baru mencapai 41,9 persen.

"Indonesia mendukung penyelesaian AITIGA Review pada tahun ini. Namun, kami juga memerlukan waktu untuk menyelesaikan konsultasi intensif dengan para pemangku kepentingan dalam negeri agar hasil perundingan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pelaku usaha," ujar Mendag Budi Santoso pascapertemuan.

Hingga Juli 2026, Indonesia telah menyampaikan penawaran akses pasar secara bertahap yang mencakup sekitar 57 persen dari target. Langkah ini diambil untuk mendorong perdagangan yang lebih terbuka dan menguntungkan bagi kedua negara, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok di kawasan.

Selain pembahasan AITIGA, kedua menteri mendiskusikan pengaktifan kembali Working Group on Trade and Investment (WGTI) 2026 dan usulan pembentukan Indonesia–India Preferential Trade Agreement (ID–IN PTA). Pembahasan teknis mengenai ID–IN PTA direncanakan mulai berjalan setelah Review AITIGA mencapai konklusi substansial pada Oktober 2026.

India merupakan tujuan ekspor nonmigas terbesar ketiga dan sumber impor terbesar kesepuluh bagi Indonesia. Pada periode Januari–Juni 2026, total perdagangan bilateral mencapai USD11,89 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD9,28 miliar dan impor USD2,60 miliar. Posisi tersebut memberikan surplus neraca perdagangan sebesar USD6,68 miliar bagi Indonesia.

Sementara itu, sepanjang tahun 2025, total nilai perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD23,13 miliar. Indonesia membukukan nilai ekspor sebesar USD18,30 miliar dan impor sebesar USD4,84 miliar, yang menghasilkan surplus sebesar USD13,46 miliar.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke India meliputi batu bara, minyak sawit, baja nirkarat, asam lemak monokarboksilat industri, dan korundum buatan. Sedangkan komoditas impor utama dari India terdiri dari daging kerbau, kacang tanah, kendaraan pengangkut barang, suku cadang traktor, serta tembakau mentah.(*)