EmitenNews.com - Ketegangan di Timur Tengah menutup ruang penurunan suku bunga acuan atau BI-Rate. Bank Indonesia mulai memperkuat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyeimbangkan antara keperluan menstabilkan nilai tukar rupiah, intervensi, serta menahan agar outflow tidak terlalu besar.

“Meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75 persen, tampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup. Kami juga harus menyikapi untuk stabilitas,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Menurut Perry Warjiyo, bank sentral juga mulai memperkuat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak awal tahun. Tujuannya, menyeimbangkan antara keperluan menstabilkan nilai tukar rupiah, intervensi, serta menahan agar outflow tidak terlalu besar.

“SRBI yang tahun lalu kami mampu turunkan secara cepat, ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya memang menarik inflow,” katanya.

Perry memastikan bahwa langkah ini tetap disertai dengan upaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan. Dalam hal ini, uang primer (M0) tetap dijaga tumbuh pada level double digit, yakni sekitar 13,3 persen per Februari 2026.

BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Hingga saat ini, realisasi pembelian secara year to date telah mencapai Rp90,05 triliun.

“Inilah beberapa rekalibrasi, kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability,” kata Perry.

Prospek perekonomian global semakin memburuk, terutama dipicu oleh perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Kondisi ini berdampak terhadap ekonomi dan keuangan global melalui jalur komoditas, perdagangan, dan finansial.

Lihat saja. Pada jalur komoditas, terjadi kenaikan harga, khususnya minyak. Di jalur perdagangan, terjadi gangguan rantai pasok (supply chain). Sedangkan pada jalur finansial, ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat.

Harga minyak dunia bahkan melonjak sejak Februari hingga Maret, sempat mencapai USD122,95 per barel dan masih berfluktuasi. Selain itu, harga emas juga meningkat sepanjang 2025 dan tetap berada pada level tinggi.