EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan akhir pekan, di tengah tekanan ketidakpastian global yang masih tinggi.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan rupiah pada perdagangan Jumat (24/4/2026) ditutup menguat 57 poin ke level Rp17.229 per USD, setelah sempat melemah hingga 10 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.286 per USD.

Meski mencatat penguatan, pergerakan rupiah masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.

“Isu geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait konflik AS-Iran yang berpotensi berkepanjangan,” ujar Ibrahim.

Ketegangan meningkat setelah muncul laporan bahwa negosiator utama Iran dalam pembicaraan dengan AS mengundurkan diri. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran, sekaligus menegaskan sikap keras terhadap isu nuklir.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Risiko semakin meningkat seiring ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, yang dilaporkan menjadi titik konflik antara kedua negara.

Kondisi ini, lanjut Ibrahim, mendorong lonjakan harga minyak global hingga menembus level di atas USD100 per barel, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan dolar AS dari negara importir energi, termasuk Indonesia.

“Indonesia sebagai net importir minyak akan membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk impor energi, sehingga secara langsung menekan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari potensi dampak inflasi akibat kenaikan harga energi global. Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk meredam gejolak tersebut. Cadangan fiskal melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp423 triliun disebut belum digunakan, dan menjadi bantalan jika tekanan subsidi energi meningkat.

Selain itu, Bank Indonesia juga terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valas, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun offshore Non-Deliverable Forward (NDF). Bank sentral juga memperluas instrumen operasi moneter valas, termasuk transaksi berbasis yuan offshore, guna menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.